ANTIHISTAMIN
@nolamalini24@gmail.com
Antihistamin (antagonis histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1.
@nolamalini24@gmail.com
1. Latar Belakang
Pada tahun 1940 untuk pertama
kali diperkenalkan obat antihistami. Sejak itu secara luas digunakan dalam
pengobatan simtomatik penyakit alergi. Pada umumnya antihistamin yang beredar
di Indonesia mempunyai spektrum luas artinya mempunyai efek lain seperti
antikolinergik, anti serotonin, antibradikinin dan alfa adrenoreseptor bloker.
Golongan obat ini disebut antihistamin (AH1) klasik. Penderita yang mendapat
obat AH1 klasik akan menimbulkan efek samping, mengantuk, kadang-kadang timbul
rasa gelisah, gugup dan mengalami gangguan koordinasi. Efek samping ini sering
menghambat aktivitas sehari-hari, dan menimbulkan masalah bila obat
antihistamin ini digunakan dalam jangka panjang. Dekade ini muncul antihistamin
baru yang digolongkan ke dalam kelompok AH1 sedatif yang tidak bersifat sedasi,
yang memberikan harapan cerah.
Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau
menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor
–histamin (penghambatan saingan).
2.
PENGERTIAN
1.
HISTAMIN
Sebelum mempelajari tentang obat-obat antihistamin, ada
baiknya terlebih dahulu kita membahas mengenai histamin. Histamin atau
β-imidazoletilamin merupakan senyawa normal yang ada dalam jaringan tubuh,
disintesis dari L-histidin oleh enzim histidin dekarboksilase. Enzim histidin
dekarboksilase merupakan suatu enzim yang banyak terdapat di sel-sel parietal
mukosa lambung, sel mast, basofil dan susunan saraf pusat. Histamin berperan
pada berbagai proses fisiologis penting seperti regulasi system kardiovaskular,
otot halus, kelenjar eksokrin, system imun dan fungsi system saraf pusat.
Histamin dikeluarkan dari tempat pengikatan ion pada kompleks heparin-protein
dalam sel mast sebagai hasil reaksi antigen-antibodi, bila ada rangsangan
senyawa alergen. Senyawa alergen dapat berupa spora, debu rumah, sinar ultra
violet, cuaca, racun, tripsin dan ezim proteolitik lainnya, detergent, zat
warna, obat, makanan dan beberapa turunan amin.
Antihistamin (antagonis histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1.
Antihistamin ini biasanya digunakan untuk
mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh tanggapan berlebihan tubuh
terhadap alergen (penyebab alergi), seperti serbuk sari tanaman. Reaksi alergi
ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah signifikan di tubuh.
MACAM-MACAM ANTIHISTAMIN
1. Antihistamin (AH1) non sedatif.
a. Terfenidin
Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
Merupakan suatu derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4 jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari.
b. Astemizol
Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
c. Mequitazin
Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
d. Loratadin
Adalah suatu derivat azatadin, struktur kimia Gbr. 1. Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Matabolitnya yaitu descarboetboxy-loratadin (DCL) bersifat aktif
secara farmakologi clan juga tidak ada kumulasi. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
Adalah suatu derivat azatadin, struktur kimia Gbr. 1. Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Matabolitnya yaitu descarboetboxy-loratadin (DCL) bersifat aktif
secara farmakologi clan juga tidak ada kumulasi. Loratadin dibiotransformasi dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
2. Terdapat beberapa
jenis antihistamin, yang dikelompokkan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap
reseptor histamin.
a. Antagonis Reseptor Histamin H1
Secara klinis digunakan untuk
mengobati alergi. Contoh obatnya adalah: difenhidramina, loratadina,
desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin merupakan efek
samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina.
b. Antagonis Reseptor Histamin H2
Reseptor histamin H2 ditemukan
di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam lambung.
Dengan demikian antagonis reseptor H2 (antihistamin H2) dapat digunakan untuk
mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan untuk menangani
peptic ulcer dan penyakit refluks gastroesofagus. Contoh obatnya adalah
simetidina, famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan lafutidina.
c. Antagonis Reseptor Histamin H3
Antagonis H3 memiliki khasiat
sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif. Penggunaannya sedang
diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's, dan schizophrenia. Contoh
obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
d. Antagonis Reseptor Histamin H4
Memiliki khasiat
imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik.
Contohnya adalah tioperamida.Beberapa obat
lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya adalah obat antidepresan
trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat yang awalnya ditujukan
sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai antihistamin.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya.
2.
PENGGUNAAN
UMUM
Menghilangkan gejala yang behubungan dengan
alergi, termasuk rinithis, urtikaria dan angiodema, dan sebagai terapi adjuvant
pada reaksi anafilaksis. Beberapa antihistamin digunakan untuk mengobati mabuk
perjalanan (dimenhidrinat dan meklizin), insomnia (difenhidramin), reaksi
serupa parkinson (difenhidramin), dan kondisi nonalergi lainnya.
Lazimnya dengan “antihistaminika” selalu
dimaksud H-1 blockers. Selain bersifat antihistamin, obat-obat ini juga
memiliki berbagai khasiat lain, yakni daya antikolinergis, antiemetis dan daya
menekan SSP (sedative), dan dapat menyebabkan konstipasi, mata kering, dan
penglihatan kabur, sedangkan beberapa di antaranya memiliki efek antiserotonin
dan local anestesi (lemah).
Berdasarkan efek ini, antihistaminika
digunakan secara sistemis ( oral,injeksi) untuk mengobati simtomatis
bermacam-macam gangguan alergi yang disebabkan oleh pembebasan histamine.
3.
ANTAGONISME
TERHADAP HISTAMIN
AH1 menghambat efek histamine pada pembuluh
darah, bronkus, dan bermacam-macam otot polos, selain itu AH1 bermanfaat untuk
mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai pengelepasan
histamine endogen berlebihan. Otot
polos: secara umum AH1 efektif menghambat kerja histamine pada otot polos
(usus,bronkus).
Permeabilitas kapiler: peninggian
permeabilitas kapiler dan udem akibat histamin, dapat dihambat dengan efektif
oleh AH1
Reaksi anafilaksis dan alergi: reaksi
anafilaksis dan beberapa reaksi alergi refrakter terhadap pemberian AH1, karena
disini bukan histamine saja yang berperan tetapi autakoid lain juga dilepaskan.
Efektivitas AH1 melawan reaksi hipersensitivitas berbeda-beda, tergantung
beratnya gejala akibat histamin.
Kelenjar eksokrin: efek perangsangan
histamine terhadap sekresi cairan lambung tidak dapat dihambat oleh AH1. AH1
dapat menghambat sekresi saliva dan sekresi kelenjar eksokrin lain akibat histamin.
Susunan saraf pusat: AH1 dapat merangsang
maupun menghambat SSP. Efek perangsangan yang kadang-kadang terlihat dengan
dosis AH1 biasanya ialah insomnia, gelisah dan eksitasi. Dosis terapi AH1
umumnya menyebabkan penghambatan SSP dengan gejala misalnya kantuk,
berkurangnya kewaspadaan dan waktu reaksi yang lambat.
Antihistamin yang relative baru
misalnya terfenadin, astemizol, tidak atau sangat sedikit menembus sawar darah
otak sehingga pada kebanyakan pasien biasanya tidak menyebabkan kantuk, gangguan
koordinasi atau efek lain pada SSP. AH1 juga efektif untuk mengobati mual dan
muntah akibat peradangan labirin atau sebab lain.
Anestesi lokal: beberapa AH1 bersifat
anestetik lokal dengan intensitas berbeda. AH1 yang baik sebagai anestesi lokal
ialah prometazin dan pirilamin. Akan tetapi untuk menimbulkan efek tersebut
dibutuhkan kadar yang beberapa kali lebih tinggi daripada sebagai antihistamin.
Antikolinergik: banyak AH1 bersifat mirip atropin. Efek ini tidak memadai untuk terapi, tetapi efek antikolinergik ini dapat timbul pada beberapa pasien berupa mulut kering, kesukaran miksi dan impotensi.
Antikolinergik: banyak AH1 bersifat mirip atropin. Efek ini tidak memadai untuk terapi, tetapi efek antikolinergik ini dapat timbul pada beberapa pasien berupa mulut kering, kesukaran miksi dan impotensi.
Sistem kardiovaskular: dalam dosis terapi,
AH1 tidak memperlihatkan efek yang berarti pada system kardiovaskular. Beberapa
AH1 memperlihatkan sifat seperti kuinidin pada konduksi miokard berdasarkan
sifat anestetik lokalnya.
4.
FARMAKOKINETIK
Setelah pemberian oral atau parenteral, AH1
diabsorpsi secara baik. Efeknya timbul 15-30 menit setelah pemberian oral dan
maksimal setelah 1-2 jam. Lama kerja AH1 setelah pemberian dosis tunggal
kira-kira 4-6 jam, untuk golongan klorsiklizin 8-12 jam. Difenhidramin yang
diberikan secara oral akan mencapai kadar maksimal dalam darah setelah
kira-kira 2 jam dan menetap pada kadar tersebut untuk 2 jam berikutnya,
kemudian dieliminasi dengan masa paruh kira-kira 4 jam.
Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru
sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot dan kulit kadarnya lebih rendah.
Tempat utama biotransformasi AH1 ialah hati, tetapi dapat juga pada paru-paru
dan ginjal. Tripelenamin mengalami hidroksilasi dan konjugasi sedangkan
klorsiklizin dan siklizin terutama mengalami demetilasi. AH1 diekskresi melalui
urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya.
5.
MEKANISME KERJA
Antihistamin bekerja dengan
cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran
pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini ada 3
jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine. Yang
paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan
klorfeniramin (biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat). Antihistamin
menghambat efek histamin pada reseptor H1. Tidak menghambat pelepasan histamin,
produksi antibodi, atau reaksi antigen antibodi. Kebanyakan antihistamin
memiliki sifat antikolinergik dan dapat menyebabkan kostipasi, mata kering, dan
penglihatan kabur. Selain itu, banyak antihistamin yang banyak sedasi. Beberapa
fenotiazin mempunyai sifat antihistamin yang kuat (hidroksizin dan prometazin).
1. Antihistamin H1
Meniadakan secara kompetitif
kerja histamin pada reseptor H1. Selain memiliki kefek antihistamin, hampir
semua AH1 memiliki efek spasmolitik dan anastetik lokal
2.
Antihistamin H2
Bekerja tidak pada reseptor
histamin, tapi menghambat dekarboksilase histidin sehinnga memperkecil
pembentukan histamin jika pemberian senyawa ini dilakukan sebelum pelepasan
histamin. Tapi jika sudah terjadi pelepasa histamin, indikasinya sama denfan AH
1.
Derivat Fenotiazin
Farmakodinamik : Salah satu derivat dari
fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah
2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan
cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ (largactill)
berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action. Sususan
Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh
tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul
toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status
emisinal penderita sebelum minum obat.
Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ
menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat
obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid.
Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat
rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi
gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal
).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan
pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna
atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang
bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot
Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam
keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab
sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian
diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin
dan tioridazin berkisar antara 25-35% sedangkan haloperidol mencapai 65%.
Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan
protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7
L/kg). Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah
pemberian obat terakhir.
Mekanisme kerja:
Obat
anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem
ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis).
Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas
terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.
Efek samping:
CPZ menghambat ovulasi dan menstruasi. CPZ juga
menghambat sekresi ACTH. Efek terhadap sistem endrokin ini terjadi berdasarkan
efeknya terhadap hipotalamus. Semua fenotiazin, kecual klozapin enimbulkan
hiperprolaktinea lewat penghambatan efek sentral dopamin.batas keamanan CPZ
cukup lebar, sehingga obat ini cukup aman. Efek samping umumnyamerupaan
perluasan efek farmakodinamiknya. Gejala idiosinkrasi mungkin timbul,berupa
ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah
perifer.
Kardiovaskular: CPZ
dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan beberapa hal, yaitu:
·
Refleks presor yang penting untuk mempertahankan
tekanan darah yang dihambat oleh CPZ.
- CPZ berefek a-bloker.
- CPZ menimbulkan efek intropotik negatif pada jantung.
Derivat
etilendiamin
1.
Antazolin efek antihistaminnya tidak terlalu kuat
tetapi tidak merangsang selaput lendir sehingga cocok digunakan pada pengobatan
gejala-gejala alergis pada mata dan hidung.
a)
Ripelenamin
digunakan sebagai krem pada gatal-gatal pada alergi terhadap sinar
matahari, sengatan serangga dan lain-lain.
b)
Mepirin
derivat metoksi dari tripilennamin yang digunakan dalam kombinasi dengan
feneramin dan fenilpropanolamin terhadap hypiper.
c)
Klemizol
adalah derivat –klor yang hanya digunakan pada salep atau suppositoria
antiwasir.
Derivat provilamin
1)
Feniramin : Memiliki daya kerja
antihistamin dan meredakan efek batuk yang cukup baik.
2)
Klorfeneramin : adalah derivat klor dengan daya kerja 10x
lebih kuat dan dengan derajat toksisitas yang sama.
3)
Deksklorfeneramin : Adalah bentuk dekltronya
2x lebih kuat dari pada bentuk trasemisnya.
4)
Tripolidin : Adalah derivat
dengan rantai sisi pirolidin yang daya kerjanya agak kuat. Mulai kerjanya pesat
dan bertahan lama sampai 24jam (tablet retard).
Sifat-sifat dan mekanisme kerja antihistaminika
Antihistaminika adalah zat-zat yang
dapat mengurangi atau menghindarkan efek atas tubuh dari histamin yang
berlebihan, sebagaimana terdapat pada gangguan-gangguan alergi. Bila dilihat
dari rumus molekulnya, bahwa inti molekulnya adalah etilamin, yang juga
terdapat dalam molekul histamin. Gugusan etilamin ini seringkali berbentuk
suatu rangkaian lurus, tetapi dapat pula merupakan bagian dari suatu struktur
siklik,misalnya antazolin.
Antihistaminika tidak mempunyai
kegiatan-kegiatan yang tepat berlawanan dengan histamin seperti halnya dengan
adrenalin dan turunan-turunannya, tetapi melakukan kegiatannya melalui
persaingan substrat atau ”competitive inhibition”. Obat-obat inipun tidak
menghalang-halangi pembentukan histamin pada reaksi antigen-antibody, melainkan
masuknya histamin kedalam unsur-unsur penerima didalam sel (reseptor-reseptor)
dirintangi dengan menduduki sendiri tempatnya itu. Dengan kata lain karena
antihistaminik mengikat diri dengan reseptor-reseptor yang sebelumnya harus
menerima histamin, maka zat ini dicegah untuk melaksanakan kegiatannya yang
spesifik terhadap jaringan-jaringan. Dapat dianggap etilamin lah dari
antihistaminika yang bersaing dengan histamin untuk sel-sel reseptor tersebut.
Efek samping
Karena antihistaminika juga memiliki
khasiat menekan pada susunan saraf pusat, maka efek sampingannya yang
terpenting adalah sifat menenangkan dan menidurkannya. Sifat sedatif ini adalah
paling kuat pada difenhidramin dan promethazin, dan sangat ringan pada
pirilamin dan klorfeniramin. Kadang-kadang terdapat stimulasi dari pusat,
misalnya pada fenindamin. Guna melawan sifat-sifat ini yang seringkali tidak
diinginkan pemberian antihistaminika dapat disertai suatu obat perangsang
pusat, sebagai amfetamin. Kombinasi dengan obat-obat pereda dan narkotika
sebaiknya dihindarkan. Efek sampingan lainnya adalah agak ringan dan merupakan
efek daripada khasiat parasimpatolitiknya yang lemah, yaitu perasaan kering di
mulut dan tengg orokan, gangguan-gangguan pada saluran lambung usus, misalnya
mual, sembelit dan diarrea. Pemberian antihistaminika pada waktu makan dapat
mengurangi efek sampingan ini.
6.
Turunan
eter amino alkil
Rumus : Ar(Ar-CH2)
CH-O-CH2-CH2-N(CH3)2
Hubungan struktur dan aktifitas :
a. Pemasukan gugus Cl, Br dan OCH3
pada posisi pada cincin aromatic akan meningkatkan aktivitas dan
menurunkan efek samping.
b. Pemasukan gugus CH3 pada posisi
p-cincin aromatic juga dapat meningkatkan aktivitas tetapi pemasukan pada
posisi o- akan menghilangkan efek antagonis H1 dan akan meningkatkan
aktifitas antikolinergik
c. Senyawa turunan eter aminoalkil
mempunyai aktivitas antikolinergik yang cukup bermakna karena mempunyai
struktur mirip dengan eter aminoalkohol, suatu senyawa pemblok kolinergik.
Struktur
senyawa turunan eter amino alkil
Contoh senyawa turunan eter amino
alkil :
1. Difenhidramin HCl, merupakan
antihistamin kuat yang mempunyai efek sedative dan antikolonergik
2. Dimenhidrinat, adalah garam yang
terbentuk dari difenhidramin dan 8- kloroteofilin.
3. Karbinoksamin maleat, mengandung
satu atom C asimetrik yang mengikat 2 cincin aromatik.
2. Turunan
etilendiamin
Rumus umum ;
Ar(Ar’)N-CH2-CH2-N(CH3)2
Merupakan antagonis H1 dengan
keefektifan yang cukup tinggi, meskipun penekan
system saraf dan iritasi lambung
cukup besar.
Hubungan struktur antagonis H1
turunan etilen diamin
dijelaskan sebagai berikut :
a. Tripelnamain HCl, mempunyaiefek
antihistamin sebanding dengan difenhidramin dengan efek samping lebih
rendah.
b. Antazolin HCl, mempunyai
aktivitas antihistamin lebih rendah dibanding turuan etilendiamin lain.
c. Mebhidrolin nafadisilat,
strukturnya mengandung rantai samping amiopropil dalam system heterosiklik
karbolin dan bersifat kaku.
Struktur senyawa turunan etilendiamin
3. Turunan alkil amin
Rumus umum ; Ar
(Ar’)CH-CH2-CH2-N(CH3)2
Merupakan antihistamin dengan indeks
terapetik cukup baik dengan efek samping dan
toksisitasnya sangat rendah.
Hubungan struktur antagonis H1
dengan turunan alkil amin
dijelaskan sebagai berikut :
a) Feniramin maleat, merupakan
turunan alkil amin yang memunyai efek antihistamin H1 terendah.
b) CTM, merupakan antihistamin H1 yang
popular dan banyak digunakan dalam sediaan kombinasi.
c) Dimetinden maleat, aktif dalam
bentuk isomer levo.
Struktur senyawa
turunan alkil amin
7.
EFEK
SAMPING
Pada dosis terapi, semua AH1 menimbulkan efek
samping walaupun jarang bersifat serius dan kadang-kadang hilang bila
pengobatan diteruskan. Efek samping yang paling sering ialah sedasi, yang
justru menguntungkan bagi pasien yang dirawat di RS atau pasien yang perlu
banyak tidur.
Tetapi efek ini mengganggu bagi pasien yang
memerlukan kewaspadaan tinggi sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya
kecelakaan. Pengurangan dosis atau penggunaan AH1 jenis lain mungkin dapat
mengurangi efek sedasi ini. Astemizol, terfenadin, loratadin tidak atau kurang
menimbulkan sedasi.
Efek samping yang berhubungan dengan efek
sentral AH1 ialah vertigo, tinitus, lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan
kabur, diplopia, euphoria, gelisah, insomnia dan tremor. Efek samping yang
termasuk sering juga ditemukan ialah nafsu makan berkurang, mual, muntah,
keluhan pada epigastrium, konstipasi atau diare, efek samping ini akan
berkurang bila AH1 diberikan sewaktu makan.
Efek samping lain yang mungkin timbul oleh
AH1 ialah mulut kering, disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat
dan lemah pada tangan. Insidens efek samping karena efek antikolinergik
tersebut kurang pada pasien yang mendapat antihistamin nonsedatif.
AH1 bisa menimbulkan alergi pada pemberian oral, tetapi lebih sering terjadi akibat penggunaan lokal berupa dermatitis alergik. Demam dan foto sensitivitas juga pernah dilaporkan terjadi. Selain itu pemberian terfenadin dengan dosis yang dianjurkan pada pasien yang mendapat ketokonazol, troleandomisin, eritromisin atau lain makrolid dapat memperpanjang interval QT dan mencetuskan terjadinya aritmia ventrikel.
AH1 bisa menimbulkan alergi pada pemberian oral, tetapi lebih sering terjadi akibat penggunaan lokal berupa dermatitis alergik. Demam dan foto sensitivitas juga pernah dilaporkan terjadi. Selain itu pemberian terfenadin dengan dosis yang dianjurkan pada pasien yang mendapat ketokonazol, troleandomisin, eritromisin atau lain makrolid dapat memperpanjang interval QT dan mencetuskan terjadinya aritmia ventrikel.
Hal ini juga dapat terjadi pada pasien dengan
gangguan fungsi hati yang berat dan pasien-pasien yang peka terhadap terjadinya
perpanjangan interval QT (seperti pasien hipokalemia). Kemungkinan adanya
hubungan kausal antara penggunaan antihistamin non sedative dengan terjadinya
aritmia yang berat perlu dibuktikan lebih lanjut.
a. Antagonis reseptor H1
·
Difenhidramin : Benadryl (Parke Davis)
Disamping khasiat antihistaminiknya yang kuat, difenhidramin juga bersifat
spasmolitik sehingga dapat digunakan pada pengobatan penyakit parkinson, dalam
kombinasi dengan obat-obat lain yang khusus digunakan untuk penyakit ini.
Dosis : oral 4 kali sehari 25 – 50 mg, i.v. 10-50 mg
·
Dimenhidrinat: difenhidramin-8-klorotheofilinat, Dramamin (Searle), Antimo
(Phapros).
Pertama kali digunakan pada mabuk laut (“motion sickness”) dan
muntah-muntah sewaktu hamil.
Dosis : oral 4
kali sehari 50 – 100 mg, i.m. 50 mg.
·
Metildifenhidramin : Neo-Benodin (Brocades)
Adalah derivat, yang khasiatnya sama dengan persenyawaan induknya, tetapi
sedikit lebih kuat.
Dosis :
oral 3 kali sehari 20 – 40 mg.
·
Tripelenamin : Pyribenzamin (Ciba-Geigy), Azaron (Organon)
Rumus bangun dari zat ini menyerupai mepiramin, tetapi tanpa gugusan
metoksil (OCH3).
Khasiatnya sama
dengan difenhidramin, hanya efek sampingannya lebih sedikit.
Dosis : oral 3
kali sehari 50 – 100 mg.
· Antazolin : fenazolin, Antistine (Ciba-Geigy)
Khasiat antihistaminiknya tidak begitu kuat seperti yang lain, tetapi
kebaikannya terletak pada sifatnya yang tidak merangsang selaput lendir. Maka
seringkali digunakan untuk mengobati gejala-gejala alergi pada mata dan hidung
(selesma) Antistine-Pirivine, Ciba Geigy
Dosis : oral 2
– 4 kali sehari 50 – 100 mg
·
Feniramin : profenpiridamin, Avil (hoechst)
Terutama
digunakan sebagai garam p-aminosalisilatnya
Dosis : oral 3
kali sehari 25 mg
·
Klorfenamin : (klorfeniramin, Methyrit-SKF; CTM, KF; Pehaclor,
Phapros)
adalah derivateklor, Substitusi dari satu atom klor pada molekul feniramin
meningkatkan khasiatnya 20 kali lebih kuat, tetapi derajat toksisitasnya
praktis tidak berubah. Efek sampingan dari obat ini hanya sedikit dan
tidak memiliki sifat menidurkan.
Dosis : oral 4
kali sehari 2 – 8 mg, parenteral 5 – 10 mg.
·
deksklorfeniramin (Polaramin, Schering)
adalah d- isomer dari klorfeniramin (terdiri dari suatu campuran
rasemis) yang terutama bertanggung jawab untuk kegiatan
antihistaminiknya. Toksisitasnya dari campuran d-isomer ini tidak melebihi
daripada campuran rasemiknya.
Dosis : oral 3
kali sehari 2 mg.
·
Siklizin : Marezin (Burroughs Welcome)
Zat ini khusus
digunakan sebagai obat mabuk perjalanan.
Dosis : oral 3
kali sehari 50 mg.
·
meklozin (meclizin,Suprinal)
Sifat antihistaminiknya kuat dan
terutama digunakan untuk menghindarkan dan mengobati perasaan mual karena mabuk
jalan dan pusing-pusing (vertigo). Mulai bekerjanya lambat, tetapi berlangsung
lama (9 – 24 jam). Berhubung dengan peristiwa thalidomide, zat ini
dilarang penggunaannya di Indonesia. Kerja teratogennya hingga kini belum
dibuktikan.
·
Sinarizin : Cinnipirine(ACF), Stugeron (Jansen)
Adalah suatu antihistaminika
dengan daya kerja lama dan sedikit saja sifat menidurkannya. Disamping ini juga
memiliki sifat menghilangkan rasa pusing-pusing, maka sangat efektif pada
bermacam-macam jenis vertigo (dizzines, tujuh keliling); mekanisme kerjanya
belum diketahui.
Selain itu sinarizin memiliki khasiat kardiovaskuler, yakni melindungi
jantung terhadap rangsangan-rangsangan iritasi dan konstriksi. Perdarahan di
pembuluh-pembuluh otak dan perifer (betis, kaki, tangan) diperbaiki dengan
jalan vasodilatasi, tetapi tanpa menyebabkan tachycardia dan hipertensi secara
reflektoris seperti halnya dengan vasodilator-vasodilator lainnya.
Dosis : pada vertigo 1 – 3 kali
sehari 25 – 50 mg, untuk memperbaiki sirkulasi: oral 3 kali sehari 75 mg
·
primatour (ACF)
adalah kombinasi dari sinarizin 12,5 mg dan
klorsiklizin HCl 25 mg. Preparat ini adalah kombinasi dari
dua antihistaminika dengan kerja yang panjang dan Singkat. Obat ini khusus
digunakan terhadap mabuk jalan dan mulai kerjanya cepat, yaitu ¼
sampai ½ jam dan berlangsung cukup lama.
Dosis : dewasa
1 tablet.
·
Oksomemazin : Doxergan, Toplexil (Specia)
Adalah suatu persenyawaan fenothiazin dengan khasiat antihistaminikum yang
sangat kuat, tetapi toksisitasnya rendah. Penggunaan dan efek sampingannya sama
seperti antihistaminika lain dari golongan fenothiazin.
Dosis : 10 – 40
mg seharinya
·
Promethazin : Phenergan (Rhodia)
Persenyawaan fenothiazin ini
adalah antihistaminikum yang kuat dan memiliki kegiatan yang lama (16 jam).
Memiliki kegiatan potensiasi untuk zat-zat penghalang rasa nyeri (analgetika)
dan zat-zat pereda (sedativa).
Berhubung sifat
menidurkannya yang kuat maka sebaiknya diberikan pada malam hari.
Dosis : oral 3 kali sehari 25 – 50 mg; parenteral 25 mg lazimnya
sampai 1 mg per Kg berat badan.
·
promethazin-8-klorotheofilinat (Avomin)
adalah turunan dari promethazin yang memiliki khasiat dan penggunaan yang
sama dengan dimenhidrinat, tetapi tanpa efek menidurkan.
·
Thiazinamium : Multergan (Specia)
Disamping khasiatnya sebagai antihistaminikum juga memiliki khasiat
antikolinergik yang kuat, sehingga banyak dugunakan pada asma bronchiale dengan
sekresi yang berlebihan.
·
Siproheptadin : Periactin (Specia)
Persenyawaan piperidin ini adalah suatu antihistaminikum dengan khasiat
antikolinergik lemah dan merupakan satu-satunya zat penambah nafsu makan tanpa
khasiat hormonal.
Zat ini merupakan antagonis serotonin seperti zat dengan rumus pizotifen (Sandomigran), sehingga dianjurkan sebagai obat interval pada migrain.
Zat ini merupakan antagonis serotonin seperti zat dengan rumus pizotifen (Sandomigran), sehingga dianjurkan sebagai obat interval pada migrain.
Efek sampingannya : perasaan mengantuk, pusing-pusing, mual dan mulut
kering. Tidak boleh diberikan pada penderita glaucoma, retensi urine dan pada
wanita hamil.
·
Mebhidrolin : Incidal (Bayer)
Mengandung 50 mg zat aktif, yakni
suatu antihistaminikum yang praktis tidak memiliki sifat-sifat menidurkan.
Dosis :
rata-rata 100 – 300 mg seharinya
b. Antagonis Reseptor Histamin H2
Reseptor histamin H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah
meningkatkan sekresi asam lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2
(antihistamin H2) dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta
dapat pula dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer dan penyakit refluks
gastroesofagus. Contoh obatnya adalah simetidina,
famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina,
dan lafutidina.
c. Antagonis Reseptor Histamin H3
Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan
kognitif. Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's,
dan schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
d. Antagonis Reseptor Histamin H4
Memiliki khasiat imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai
antiinflamasi dan analgesik. Contohnya adalah tioperamida. Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat
antihistamin. Contohnya adalah obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik.
Prometazina adalah obat yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini
digunakan sebagai antihistamin.
Antihistamin generasi pertama di-approve untuk mengatasi hipersensitifitas,
reaksi tipe I yang mencakup rhinitis alergi musiman atau tahunan, rhinitis vasomotor, alergi
konjunktivitas, dan urtikaria. Agen ini juga bisa digunakan sebagai terapi
anafilaksis adjuvan. Difenhidramin, hidroksizin, dan prometazin memiliki
indikasi lain disamping untuk reaksi alergi. Difenhidramin digunakan sebagai
antitusif, sleep aid,
anti-parkinsonism atau motion sickness.
Hidroksizin bisa digunakan sebagai pre-medikasi atau sesudah anestesi umum,
analgesik adjuvan pada pre-operasi atau prepartum, dan sebagai anti-emetik.
Prometazin digunakan untuk motion
sickness, pre- dan postoperative atau obstetric sedation.
(http://agungrakhmawan.wordpress.com/anti-histamin/)
Antihistamin
generasi pertama: hipersensitif terhadap
antihistamin khusus atau terkait secara struktural, bayi baru lahir atau
premature, ibu menyusui, narrow-angle
glaucoma, stenosing peptic
ulcer, hipertropi prostat simptomatik, bladder neck obstruction, penyumbatan pyloroduodenal, gejala saluran napas atas (termasuk asma),
pasien yang menggunakan monoamine
oxidase inhibitor (MAOI), dan pasien tua.
Antihistamin
generasi kedua dan ketiga :
hipersensitif terhadap antihistamin khusus atau terkait secara struktural.
Dermatitis kontak alergi dapat
terjadi pada pemakaian antihistamin H‑1 secara topical golongan
ethylene diamine pada penderita yang telah mendapat obat lain yang mempunyai
struktur yang mirip( aminophiline).
Efek sedasi akan meningkat bila
antihistsmine H1 diberikan bersama dengan obat antidepresan obat anti alcohol.
Golongan
phenothiazine dapat menghambat efek vasopressor dari epinephrine.
Efek anti kolinergik dari antihistamine akan menjadi lebih berat dan lebih
lama di berikan bersama obat inhibitor monoamine (procarbazine, furazolidone,
isocarboxazid).
Golongan
piperazine pada binatang percobaan dapat menimbulkan efekteratogenik.
KESIMPULAN
Antihistamin (antagonis
histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin.
Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang
mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada
antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1.
Antihistamin ini biasanya
digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh tanggapan
berlebihan tubuh terhadap alergen (penyebab alergi), seperti serbuk sari
tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah
signifikan di tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
Tan, Hoan Tjai. Obat-obat Penting.
2007.Jakarta: PT. Gramedia
Sukandar, Elin Yulinah, ISO Farmakoterapi. 2008. Jakarta:
PT. ISFI
Brooks, Geo F. Butel, Janet S. Morse, Stephen A.
2005. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 21. Jakarta: Salemba Medika.
Anang Endaryanto, Ariyanto Harsono, Prospek
Probiotik dalam pencegahan alergi melalui induksi aktif toleransi
imunologis: Divisi Alergi Imunologi: Bagian/SMF Ilmu
Kesehatan Anak FK-Unair/RSU Dr.Soetomo Surabaya
Bahas bahas kuyy !! J
1.
jelaskan apa anda ketahui tentang antihistamin
setelah membaca blog ini secara keseluruhan agar mudah di pahami oleh banyak
orang !!
2.
bagaimana pengaruh yang diberikan oleh obat anti
histamine jika dikonsumsi secara berlebihan ??
3.
apa yang ditimbulkan jika obat antihistamin
diberikn dengan obat lain ??
4.
apa penyebab seseorang terkena alergi yang tidak
sembuh” walaupun sudah memi num obat antihistamin dan sejenisnya ??
5.
jelaskan mekanisme kerja aantihistamin secara
ringkas agar lebih mudah dimengerti !!
6.
apakah obat antihistamin dapat memberi efek
terapi pada penyakit lain ??
- -apakah antihistamin dapat memberikan efek yang dapat merusak sistem saraf pusat ??
-
- -apakah antihistamin dapat memberikan efek yang dapat merusak sistem saraf pusat ??
-
Pengaruh yang diberikan antihistamin jika diberikan secara berlebihan yaitu timbulnya reaksi ketergantungan, toksik, serta bahkan bisa menyebabkan kematian
BalasHapussaya ingin menambhakan jawaban hesty. dimana penggunaan obat dengan tidak tepat dan berlebihan dapat menimbulkan gejala overdosis obat yaitu peningkatan intensitas dari efek samping yang akan di alami (dari uraian di atas). Efek samping overdosis lainnya, termasuk kebingungan, diare, pusing, kelelahan, sakit kepala, sakit, pupil mata melebar, gatal, kegelisahan, lemas seperti terbius, mengantuk, pingsan, denyut jantung yang cepat tidak normal, tremor, sulit bernapas, dan retensi urin.
Hapussaya setuju dengan suci, dimana pada dasarnya semua obat tidak boleh digunakan secara berlebihan karena akan membahayakan tubuh, seperti yang kita tahu bahwa obat adalah racun yang tergantung dari dosis yang diberikan , termasuk dengan antihistamin tentu tidak boleh digunakan secara berlebihan
HapusSaya contohkan obat cetirizin (AH1 generasi kedua).
HapusSebuah studi kecil dari San Martino Hospital Italy, yang diterbitkan dalam jurnal European Annals of Allergy and Clinical Immunology, melaporkan bahwa terapi obat cetirizine yang dilakukan setiap hari selama tiga tahun dapat mengurangi gejala alergi, penggunaan obat alergi resep, dan pengembangan sensitivitas alergen baru pada anak-anak yang monosensitized (sensitif terhadap satu alergen saja).
menurut saya jawaban no 5 Antihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus).
BalasHapussaya akan menambahkan jawaban dari tari, ketika antihistamin berikatan dengan reseptor histamin, maka histamin tidak dapat berikatan lagi dengan reseptor tersebut. perlu diketahui bahwa ketika histamin berikatan dengan reseptornya maka dapat menimbulkan reaksi alergi jadi kalau histamin tidak berikatan dengan reseptornya maka tidak dihasilkan reaksi alergi
Hapusuntuk pertanyaan no.6 menurut saya obat antihistamin dapat member efek terapi pada penyakit lain. contohnya adalah fenotiazin. selain memiliki aktivitas dalam antihistamin namun juga dapat memberikan aktivitas sebagai antispikotik dan efek terapi anti emetik. terima kasih. semoga membantu
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan no 1 semoga dengan tulisan ini orang bisa mengerti apa itu antihistamin.
BalasHapusAntihistamin merupakan jenis obat yang dapat dipakai untuk mengatasi berbagai macam jenis alergi. Misalnya, alergi pada makanan, alergi kulit, alergi mata dan lainnya. Obat ini hanya bisa mengurangi reaksi yang ditimbulkan oleh alergi. Antihistamin tidak dapat membebaskan Anda dari jeratan alergi yang telah mendarah daging di tubuh.
Tubuh kita memiliki zat kimia bernama histamin. Ketika ada zat-zat berbahaya seperti virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, histamin akan muncul dan bereaksi melawan zat tersebut. Perlawanan histamin melawan zat berbahaya ini bisa membuat tubuh mengalami peradangan atau inflamasi.
Namun, jika Anda memiliki alergi, histamin tidak bisa membedakan mana zat berbahaya dan tidak. Hasilnya, ketika ada zat tidak berbahaya seperti makanan dan debu, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi. Beberapa contoh reaksi alergi yang terjadi seperti kulit gatal, memerah dan membengkak, pilek, bersin-bersin, mata bengkak dan lainnya.Obat antihistamin bisa menghentikan histamin dalam memengaruhi sel tubuh untuk mengeluarkan reaksi alergi tersebut.
untuk nomor 3. Menurut saya pengaruhnya terdapat pada kombinasi obat yang digunakan. Misalnya : Antidepresan trisiklik akan berinteraksi dengan antihistamin dan dapat memperparah efek samping mengantuknya, antihistamin mizolastine juga dapat berinteraksi dengan beberapa obat lain dan dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang serius. Antihistamin yang satu ini hanya bisa dibeli dengan resep dokter, beberapa jenis obat anti jamur (panu, kadas, kurap) seperti ketokonazol, dan antibiotic seperti eritromisin dapat meningkatkan kadar antihistamin non-sedatif dalam tubuh. Dilarang meminum alkohol selama mengonsumsi antihistamin sedatif karena dapat meningkatkan efek samping mengantuknya.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2 Mengingat obat antihistamin diberikan jika diperlukan saja,
BalasHapusJadi obat antihistamin tidak boleh diberikan secara berlebihan karena dapat menyebabkan overdosis. Karena pada dasarnya obat adalah racun jika tidak digunakan dengan tepat
saya akan mencoba menjawab no 4.
BalasHapusseseorang yang tidak sembuh meski telah meminum obat histamin bisa diakibatkan oleh beberapa hal seperti kekebalan tubuhnya, antihistamin yang dipilihnya tidak tepat dan tidak sesuai dengan tingkat keparahan dari penyakit yang diderita oleh orang tersebut.
Pertanyaan no.2
BalasHapusAntagonis H1
Efek samping antagonis H1 generasi I yang paling sering terjadi adalah sedasi. Selain itu, gejala SSP lain dapat terjadi, seperti pusing, tinitus, lesu, insomnia, dan tremor. Efek samping lain yang biasanya terjadi berupa gangguan saluran cerna, seperti hilangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri epigastrum, bahkan diare. Efek samping akibat efek muskarinik ini tidak terjadi pada antagonis H1 generasi II. Meskipun jarang, efek samping pada antagonis H1 generasi II dapat berupa torsades de pointes, yaitu terjadi perpanjangan interval QT. Hal ini biasanya terjadi karena gangguan obat, terutama terfenadin dan astemizol, dalam dosis takar lajak, adanya gangguan hepatik yang mengganggu sistem sitokrom P450, atau adanya interaksi dengan obat lain. Perpanjangan QT interval diduga terjadi karena obat-obat tersebut menghambat saluran K+. Selain itu, juga dapat terjadi dermatitis alergik karena penggunaan topikal. Pada keracunan akut antagonis H1 , dapat terjadi suatu sindrom beruapa adanya halusinogen, ataksia, tidak adanya koordinasi otot, dan kejang.
Antagonis H2
Laporan yang terbanyak tentang efek samping adalah simetidin dan ranitidin karena banyak penderita yang telah diobati dengan kedua macam obat ini. Namun, secara keseluruhan, kejadian efek samping kedua obat tersebut rendah. Efek samping simetidin, pernah dilaporkan dapat berupa pusing, sakit kepala, lesu, nyeri otot, gangguan seksual, ginekomastia, dan diare. Gejal SSP, seperti somnolens dan kebingungan lebih banyak lagi terjadi pada orang tua dan gangguan penderita ginjal. Hilangnya libido, impoten, dan ginekomastia terjadi pada gangguan simetidin jangka panjang, dan diduga karena obat ini meningkatkan prolaktin dan mengikat reseptor androgen. Simetidin juga dilaporkan dapat menghambat sitokrom P450 hati dan menimbulkan gangguan darah, seperti trombositopenia, granulositopenia, dan neutropenia. Sementara itu, pada ranitidin, kejadian kebingungan, ginekomastia, gangguan seksual, ataupun gangguan darah lebih jarang terjadi dibandingkan dengan simetidin. Efek samping famotidin yang sering terjadi berupa sakit kepala, konstipasi bahkan diare dan kejadian efek samping tersebut hampir sama dengan nizatin.
Daftar Pustaka
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
pengaruh yang terjadi akibat penggunaan antihistamin secara berlebihan adalah terjadinya reaksi efek samping yang berlebihan terhadap si pengguna tersebut
BalasHapus3. jika diberikan bersamaan dengan obat lain tentunya harus mempertimbangkan efek terapinya dan terhadap reseptor. karena akan ada kemungkinan interaksi dengan beberapa obat tentunya. di takutkan dari interaksi ini menghasilkan efek samping yang buruk dan berbahaya bagi pasien tersebut.
BalasHapuscontohnya seperti
BalasHapusDEKSKLORFENIRAMIN MALEAT
Indikasi: gejala alergi seperti rinitis alergi, urtikaria, saluran napas atas sistemik.
Interaksi: penghambat MAO, alkohol, antidepresan trisiklik, barbiturat, depresan SSP, antikolinergik.
sumber :
http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-3-sistem-saluran-napas-0/34-antihistamin-hiposensitisasi-dan-kedaruratan-alergi/341
ah memiliki resiko menyebabkan rusaknya sistem saraf. jika digunakan dalam jangka panjang
BalasHapusnmr 5
BalasHapusAntihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus).
Kalo antagonis histamin kerjanya menduduki reseptor histamin agar histamin tdk berikatan dengar reseptornya sehingga alergi tdk terjadi
BalasHapusSaya ingin menjawab pertanyaan nomor 1 yaitu Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi reseptor H1, H2 dan H3. Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen-antibodi karena tidak dapat menetralkan atau mengubah efek antihistamin yang sudah terjadi. Antihistamin pada umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin bekerja terutama dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor khas.
BalasHapusHai nola
BalasHapusAntihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Sebenarnya zat histamin berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk ke tubuh.