DESAIN OBAT (RANCANGAN SUATU OBAT BARU) @ pertemuan 1
DESAIN OBAT
(RANCANGAN SUATU
OBAT BARU)
@ pertemuan 1
·
METODE MODIFIKASI STRUKTUR MOLEKUL OBAT
Modifikasi molekul merupakan metode yang digunakan untuk mendapatkan obat
baru dengan aktivitas yang dikehendaki, antara lain yaitu meningkatkan
aktivitas obat, menurunkan efek samping atau toksisitas, meningkatkan
selektifitas obat memperpanjang masa kerja obat, meningkatkan kenyamanan
penggunaan obat dan meningkatkan aspek ekonomi obat.
Modifikasi molekul umumnya dilakukan dengan cara seleksi
atau sintesis “obat lunak”, pembuatan pra obat dan obat target dan modifikasi
molekul obat yang telah diketahui aktifitas bioologisnya.
·
MODIFIKASI
MOLEKUL SENYAWA YANG SUDAH DIKETAHUI AKTIVITAS BIOLOGISNYA
Modifikasi atau
manipulasi molekul adalah dasar pengembangan dari kimia organik. Dasar
modifikasi molekul adalah mengembangkan struktur senyawa induk yang sudah
diketahui aktivitas biologisnya,kemudian disintesis dan diuji aktivitas dari
homolog atau analognya.
Ø Modifikasi
molekul bertujuan untuk :
a.
Mendapatkan senyawa baru yang mempunyai
aktifitas lebih tinggi, masa kerja lebih panjang,tingkat kenyamanan lebih
besar,toksisitas atau efek samping lebih rendah, lebih selektif, lebih stabil
dan lebih ekonomis. Selain itu modifikasi molekul gigunakan pula untuk
mendapatkan senyawa baru yang bersifat antagonis atau antimetabolit.
b.
Menemukan gugus farmakofor penting
(gugus fungsi), yaitu bagian molekul obat yang dapat memberikan aksi
farmakologi.
`Menurut
Schueler, modifikasi molekul mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut :
a).
Kemungkinan besar senyawa homolog atau analog mempunyai sifat farmakologis
serupa dengan senyawa induk dibanding dengan senyawa yang didapatkan dengan
cara seleksi atau sintesis secara acak
b).
Kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan produk dengan aktivitas farmakologis
yang lebih tinggi
C).
Data yang didapat kemungkinan dapat membantu penjelasan hubungan struktur dan
aktivitas
d).Metode
sintesis dan uji biologis yang digunakan sama sehingga dapat menghambat waktu
dan biaya
e).
Produksi obat baru menjadi lebih ekonomis
Menurut Lien, untuk mencapai tujuan modifikasi molekul
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Meningkatkan absorpsi obat
b. Mengoptimalkan waktu distribusi obat
c. Modifikasi aktivitas intrinsik farmakologis
d. Memperkecil biodegradasi obat
e. Mengembangkan penerimaan obat.
Dalam modifikasi molekul, metode
yang digunakan sangat berfariasi, antara lain yaitu :
1.Penyederhanaan molekul
Dalam metode ini
dilakukan pemecahan, penyisipan, atau pemotongan bagian dari struktur molekul
yang besar, melalui proses sintesis yang sistematik, dan dievaluasi bagian
struktur atau prototipe analognya. Pada umumnya dilakukan pada senyawa-senyawa
produk alam, seperti kokain, tubokurarin, morfin dan kuinin.
Contoh : Kokain disederhanakan molekulnya menjadi benzokain, prokain, tetrakain, butetamin, amilokain, piperokain, dan meprilkain.
Contoh : Kokain disederhanakan molekulnya menjadi benzokain, prokain, tetrakain, butetamin, amilokain, piperokain, dan meprilkain.
2.
Penggabungan molekul
Pada metode ini dilakukan addisi (penambahan), replikasi atau hibridisasi
molekul senyawa induk, melalui proses sintesis dan kemudian dievaluasi
prototipe analog yang lebih kompleks
a.
Adisi
molekul
Pada proses ini
dilakukan penggabungan dua molekul senyawa dengan gugus berbeda melalui ikatan
yang relatif lemah, seperti ikatan ion dan ikatan hidrogen
b.
Replikasi molekul
Pada proses ini dilakukan penggabungan gugus atau molekul
yang identik, melalui pembentukan ikatan kovalen atau jembatan gugus tertentu.
Penggabungan dua molekul identik disebut
duplikasi, tiga molekul identik,triplikasi, 4 molekul identik, tetraplikasi dan
n-plikasi.
Contoh :
c.
Hibridasi molekul
Pada proses ini
dilakukan penggabungan gugus atau molekul yang berbeda melalui pembentukan
ikatan kovalen.
Contoh :
Asetaminosalol
(asetosal dan asetaminofen), febarbital (fenobarbital dan meprobamat),
estramustin (estradiol dan nitrogen mustar), piroksisilin (sulfadiazin dan
amoksisilin), prednimustin (prednisolon dan klorambusil), sulfasalazin
(sulfapirimidin dan asam aminosalisilat) dan sultamisilin (sulbaktam dan
ampisilin)
3. Pengubahan dimensi dan
kelenturan molekul
4. Pengubahan sifat kimia
fisika molekul
Ø Contoh modifikasi molekul
Contoh modifikasi molekul antara lain adalah pengembangan
antibakteri turunan sulfanilamid, pengembangan antibiotika turunan penisilin
dan pengembangan antibiotika turunan penisilin dan pengembangan obat antagonis
terhadap reseptor H2.
1. Pengembangan
antibakteri turunan sulfanilamid
Sulfanamid adalah senyawa antibakteri setempat, tidak diberikan per-oral karena dengan cepat akan dimetabolisis. Dengan melalui modifikasi molekul dapat diubah menjadi senyawa yang mempunyai efek antibakteri sistemik dan dapat diberikan per-oral, seperti sulfadiazin dan sulfametoksazol. Untuk mendapatkan efek antibakteri pada saluran cerna dilakukan modifikasi molekul dengan membuat menjadi pra-obat yang sedikit diabsorpsi pada saluran cerna, seperti pada sulfaguanidin dan ptalazol, sehingga senyawa efektif untuk infeksi saluran cerna.
Sulfanamid adalah senyawa antibakteri setempat, tidak diberikan per-oral karena dengan cepat akan dimetabolisis. Dengan melalui modifikasi molekul dapat diubah menjadi senyawa yang mempunyai efek antibakteri sistemik dan dapat diberikan per-oral, seperti sulfadiazin dan sulfametoksazol. Untuk mendapatkan efek antibakteri pada saluran cerna dilakukan modifikasi molekul dengan membuat menjadi pra-obat yang sedikit diabsorpsi pada saluran cerna, seperti pada sulfaguanidin dan ptalazol, sehingga senyawa efektif untuk infeksi saluran cerna.
2. Pengembangan antibiotika turunan penisilin
Benzilpenisillin (penisilin G ) merupakan penisilin alami yang mempunyai spektrum sempit, hanya efektif terhadap bakteri gram positif, dan tidak tahan terhadap enzim β-laktamase yang dihasilkan oleh staphylococcus aureus.
3. Pengembangan senyawa antagonis rseptor Histamin H2
Histamin dapat merangsang kontraksi otot polos bronki, meningkatkan permeabilitas pembuluh darah dan sekresi mukus. Yang bertanggung jawab terhadap efek diatas adalah reseptor histamin H1, dan efek tersebut dapat ditekan oleh obat antihistamin klasik.
Struktur antihistamin klasik pada umumnya mengandung gugus aromatik lipofil yang dihubungkan oleh rantai 3 atom dengan atom N basa; contoh : difenhidramin, tripelenamin dan klortimeton. Selain menimbulkan efek-efek di atas histamin juga dapat mereangsang pengeluaran asam lambung. Efek ini tidak dapat dihambat oleh obat antihistamin klasik sehingga di duga histamin mempunyai reseptor yang secara karakteristik berbeda dengan reseptor H1, yang dinamakan reseptor histamin H2. Senyawa yang dapat menghambat pengeluaran asam lambung dinamakan H2 antagonis. dari hubungan struktur dan aktivitas, ddalam usaha pengembangan obat H2-agonis, didapat hal-hal menarik sebagai berikut :
a.
Pemasukan gugus metil pada atom C2 cincin
imidazol secara selektif dapat merangsang reseptor H1, sedang
pemasukan gugus metil pada atom C4 ternyata senyawa bersifat
selektif H2-agonis dengan
efek H1-agonis lemah. Hal ini menunjukkan bahwa histamin paling
sedikit mempunyai dua tempat reseptor, yaitu reseptor H1 dan
reseptor H2.
b. Modifikasi
pada cincin ternyata tidak menghasilkan
efek H2-antagonis, sehingga modifikasi dilakukan pada rantai
samping.
c.
Penggantian gugus amino rantai samping dengan gugus guanidin yang bersifat basa
kuat ternyata dapat menghasilkan efek H2-antagonis lemah.
d.
Penambahan panjang gugus metilen pada rantai samping
turunan guanidin akan meningkatkan aktivitas H2-antagonis tetapi
senyawa masih mempunyai efek agonispersial yang tiidak diinginkan
e. Penggatntian
gugus guanidin yang bermuataan positif dengn gugus tiourea yang tidak bermuatan
dan bersifat polar, seperti pada burinanid, akan menghilangkan efek agonis dan
memberikan efek H2-antagonis yang kuat.
f.
Bila diberikan secara oral burimamid mempunyai aktivitas yang rendah
karena mempunyai kelarutan dalam air yang besar sehingga absorpsi obat dalam
saluran cerna rendah kemudian dibuat turunannya yang bersifat lebih lipofilik,
dengan cara penmbahan gugus metil pada atom C4 cincin imidazol dan
mengganti 1 gugus metilen pada rantai samping burimamid dengan atom S. Senyawa
baru ini, yaitu metiamid, ternyata efektif bila diberikan secara oral dan mempunyai
aktivitas yang lebih besar dibanding burimamid.
g.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa mtiamid dapat menimbulkan efek samping kelainan darah (agranulositosis) yang
disebabkan oleh adanya gugus tiourea, modifikasi selanjutnya adalah mengganti
gugus tiourea dengan gugus N-sianoguanidin, yang tidak bermuatan dan masih
bersifat polar. Seperti pada simetidin. Gugu siano yang bersifat elektronegatif
kuat dapat mengurangi sifat kebasaan atau ionisasi gugus guanidiin sehingga
absorpsi pada saluran cerna menjadi lebih besar. Simetidin aktivitasnya 2 kali
lebih besar dibanding metiamid dan merupakan senyawa penghambat reseptor H2
pertama yang digunakan secara klinik, untuk menghambat sekresi asam lambung
pada pengobatan tukak lambung.
h. Modifikasi
isoterik dari intimidazol telah diselidiki dan dihasilkan senyawa senyawa
analog simetidin yang berkhasiat lebih baik dan efek samping yang lebih rendah.
Penggantian inti imidazol dengan cincin furan, pemasukan gugus dimetilaminoetil
pada cincin dan penggantian gugus sianoguanidin dengan gugus nitrometenil,
menghasilkan ranitidin, yang dapat menghilangkan efek samping simetidin,
seperti ginekomastia dan konfusi mental, dan mengurangi kebasaan senyawa. Tidak
seperti simetidin, ranitidin tidak menghambat metabolisme dari fenitoin,
warfarin, dan aminofilin, dan juga tidak mengikat sitokrom.
i.
Penggantian inti imidazol dengan cincin tiazol, pemasukan
gugus guanidin pada cincin dan penggantian gugus sianoguanidin dengan gugus
sulfonamidoguanidin, menghasilkan famotidin, yang mempunyai aktivitas lebih
poten dibandingkan simetidin dan ranitidin, dapat menurunkan efek
antiandrogenik, dan mengurangi sifat kebasaan senyawa.
Desain Obat
Tujuan utama upaya merancang ataudesain suatu obat dalam ilmu kimia medisinal adalah supaya dapat ditemukan suatu molekul yang akan menghasilkan efek biologis yang bermanfaat tanpa berakibat efek biologis yang merugikan. Sebagai contoh, suatu senyawa yang dapat menurunkan tekanan darah dapat juga memiliki efek samping pada sistem syaraf pusat. Dengan demikian merupakan suatu kesalahan apabila tujuan utama akan dapat tercapai dengan sempurna, tetapi efek negatif obat tersebut juga cukup merugikan.Taylor dan Kennewal memberi batasan kimia medisinal yang lebih spesifik sebagai yaitu studi kimiawi senyawa atau obat yang dapat memberikan efek menguntungkan dalam sistem kehidupan, yang melibatkan studi hubungan kimia senyawa dengan aktivitas biologis dan model kerja senyawa pada sistem biologis, dalam usaha mendapatkan efek terapetik obat yang maksimal dan memperkecil efek samping yang tidak diinginkan.
Desain obat dapat dibagi menjadi 2 kategori, langsung dan tidak langsung. Pendekatan langsung (Direct Approach) menguntungkan dari segi pengetahuan tentang struktur atom dari reseptor obat dan memegang peranan penting dalam penelitian di bidang farmasi. Pendekatan tidak langsung (Indirect Approach) merupakan pendekatan yang diterapkan program penelitian kimia medicinal pada umumnya, dimana tidak ada informasi secara terstrukur tentang reseptor target. Kedua pendekatan tersebut meliputi optimalisasi suatu senyawa penuntun atau senyawa-senyawa hasil sintesis dari molekul baru.
Metode komputasi memberikan dukungan yang sangat penting terhadap kedua pendekatan tersebut. Beberapa perangkat spesifik untuk desain obat secara langsung mencoba menghasilkan desain de novo untuk molekul-molekul dengan terhadap reseptor tertentu berdasarkan struktur reseptor tersebut. Perkembangan sekarang termasuk mencoba untuk membentuk molekul dengan suatu bagian yang aktif dan keberhasilan metode penelusuran data base 3D dari Desjarlanis dkk. Pendekatan-pendekatan yang paling berarti dalam lingkup desain obat secara tidak langsung didasarkan penggunaan metode statistic terhadap desain seri molekul-molekul untuk sintesis dan analisis HKSA dalam hal data yang berkaitan dengan obat.
Suatu pendekatan yang sempurna awalnya dikembangkan di Marshall’s Laboratory di St. Louis, yakni membuat model-model tiga dimensi dari ikatan reseptor dengan obat dengan membandingkan afinitas terhadap suatu reseptor yang sama dari beberapa molekul yang berbeda berdasarkan struktur molekul-molekul tersebut. Model-model tersebut merupakan dasar untuk kajian COMFA (Comparative molecular field analysis), yang mengijinkan para desainer obat untuk memprediksi aktivitas molekul-molekul hipotesis berdasarkan data 3D ligan-ligan terhadap suatu reseptor dengan struktur yang tidak diketahui dan penelusuran data base 3D terhadap senyawa penuntun.
Metode yan digunakan dalam kajian HKSA
Kajian HKSA berdasarkan parameter yang digunakan digolongkan dalam 3 metode, yaitu: metode Hansch, metode Fee-Wilson, dan metode QSAR-3D atau CoMFA (Comparative Molecular Field Analysis).
Metode Hansch
Metode Hansch dikembangkan oleh Hansch pada tahun 1964. Model Hanch mengasumsikan aktivitas biologis sebagai fungsi dari parameter-parameter hidrofobisitas (π), elektronik (σ), dan sterik (Es) yang terdapat pada molekul, yang dapat dinyatakan secara matematis sebagai persamaan (II,3) berikut:
Tujuan utama upaya merancang ataudesain suatu obat dalam ilmu kimia medisinal adalah supaya dapat ditemukan suatu molekul yang akan menghasilkan efek biologis yang bermanfaat tanpa berakibat efek biologis yang merugikan. Sebagai contoh, suatu senyawa yang dapat menurunkan tekanan darah dapat juga memiliki efek samping pada sistem syaraf pusat. Dengan demikian merupakan suatu kesalahan apabila tujuan utama akan dapat tercapai dengan sempurna, tetapi efek negatif obat tersebut juga cukup merugikan.Taylor dan Kennewal memberi batasan kimia medisinal yang lebih spesifik sebagai yaitu studi kimiawi senyawa atau obat yang dapat memberikan efek menguntungkan dalam sistem kehidupan, yang melibatkan studi hubungan kimia senyawa dengan aktivitas biologis dan model kerja senyawa pada sistem biologis, dalam usaha mendapatkan efek terapetik obat yang maksimal dan memperkecil efek samping yang tidak diinginkan.
Desain obat dapat dibagi menjadi 2 kategori, langsung dan tidak langsung. Pendekatan langsung (Direct Approach) menguntungkan dari segi pengetahuan tentang struktur atom dari reseptor obat dan memegang peranan penting dalam penelitian di bidang farmasi. Pendekatan tidak langsung (Indirect Approach) merupakan pendekatan yang diterapkan program penelitian kimia medicinal pada umumnya, dimana tidak ada informasi secara terstrukur tentang reseptor target. Kedua pendekatan tersebut meliputi optimalisasi suatu senyawa penuntun atau senyawa-senyawa hasil sintesis dari molekul baru.
Metode komputasi memberikan dukungan yang sangat penting terhadap kedua pendekatan tersebut. Beberapa perangkat spesifik untuk desain obat secara langsung mencoba menghasilkan desain de novo untuk molekul-molekul dengan terhadap reseptor tertentu berdasarkan struktur reseptor tersebut. Perkembangan sekarang termasuk mencoba untuk membentuk molekul dengan suatu bagian yang aktif dan keberhasilan metode penelusuran data base 3D dari Desjarlanis dkk. Pendekatan-pendekatan yang paling berarti dalam lingkup desain obat secara tidak langsung didasarkan penggunaan metode statistic terhadap desain seri molekul-molekul untuk sintesis dan analisis HKSA dalam hal data yang berkaitan dengan obat.
Suatu pendekatan yang sempurna awalnya dikembangkan di Marshall’s Laboratory di St. Louis, yakni membuat model-model tiga dimensi dari ikatan reseptor dengan obat dengan membandingkan afinitas terhadap suatu reseptor yang sama dari beberapa molekul yang berbeda berdasarkan struktur molekul-molekul tersebut. Model-model tersebut merupakan dasar untuk kajian COMFA (Comparative molecular field analysis), yang mengijinkan para desainer obat untuk memprediksi aktivitas molekul-molekul hipotesis berdasarkan data 3D ligan-ligan terhadap suatu reseptor dengan struktur yang tidak diketahui dan penelusuran data base 3D terhadap senyawa penuntun.
Metode yan digunakan dalam kajian HKSA
Kajian HKSA berdasarkan parameter yang digunakan digolongkan dalam 3 metode, yaitu: metode Hansch, metode Fee-Wilson, dan metode QSAR-3D atau CoMFA (Comparative Molecular Field Analysis).
Metode Hansch
Metode Hansch dikembangkan oleh Hansch pada tahun 1964. Model Hanch mengasumsikan aktivitas biologis sebagai fungsi dari parameter-parameter hidrofobisitas (π), elektronik (σ), dan sterik (Es) yang terdapat pada molekul, yang dapat dinyatakan secara matematis sebagai persamaan (II,3) berikut:
Log A =
aΣπ + bΣ σ + cΣ Es + d
Notasi a,b,c dan d mmenyatakan tetapan persamaan regresi. Notasi π adalah tetapan hidrofobisitas subsituen menurut Hansch-Fujita, σ adalah tetapan hammet yan menyatakan sifat elektronik, dan Es adalah tetapan subtituen sterik menurut Taft. Ketiga parameter tersebut diperoleh dari pendekatan ekstratermodinamika atau model kaitan linear energi bebas (Linear Free Energy Relationship), yaitu suatu model matematik yang dikembangkan dari hubungan reaktivitas kimia dengan parameter subtituen yang dikemukaan oleh Hammet pada tahun 1938.
Analisis Hansch kemudian dikembangkan dengan menggunakan parameter sifat fisikokimia dari struktur molekul atau menggunakan beberapa parameter teoritis. Parameter-parameter tersebut digunakan sebagai variabel bebas yang memberikan aktivitas biologis. Istilah ”parameter” sebagai variabel bebas dalam analisis QSAR sering disebut predikator atau deskriptor.
Metode Free-Wilson
Model Free-Wilson atau model de novo dikembangkan oleh Free dan Wilson. Metode ini didasarkan pada perkiraan bahwa masing-masing substituen pada struktur senyawa induk memberikan sumbangan yang tetap pada aktivitas biologis. Sumbangan ini bersifat aditif dan tidak bersifat sumbangan subtituen yang lain. Model Free-Wilson mengajukan model matematik (persamaan II.4) yang memperkirakan bahwa aktivitas biologis sama dengan jumlah sumbangan subtituen ditambah aktivitas biologi senyawa induk. (Free-Wilson, 1964).
Log A = Σ
S +μ
S adalah sumbangan subtituen pada aktivitas keseluruhan senyawa turunan senyawa induk dengan subtituen yang bersangkutan dan adalah aktivitas biologis kerangka dasar atau senyawa induk.
Penyelesaian model Free-Wilson menggunakan matriks dan analisis regresi miltilinear. Pada matriks ini substituen mendapat nilai indikator 1 jika terdapat dalam molekul dan mendapat nilai indikator 0 jika terdapat pada molekul. Untuk senyawa rasemik, pengaruh suatu subtituen pada atom kiral diberikan nilai indikator 0,5. selanjutnya untuk setiap struktur dikorelasikan dengan harga aktivitas biologisnya dengan menggunakan analisis regresi multilinear.
Keuntungan penggunaan model Free-Wilson adalah dapat dikerjakan dengan cepat, sederhana, dan murah. Disamping pengetahuan tentang struktur molekul dan aktivitas biologis yang sesuai, tidak diperlukan pengetahuan tantang tetapan subtituen seperti σ, π, Es. Metode Free-Wilson lebih efektif diterapkan jika uji aktivitas biologis lebih lambat daripada sintesis senyawa turunan dan jika tidak tersedia tetapan substituen.
Kelemahan metode Free-Wilson yaitu:
1. Penggunaan model Free-Wilson akan menghasilkan model persamaan yang hanya dapat memprediksikan turunan baru dalam jumlah terbatas.
2. Tidak dapat digunakan untuk memprediksi gugus lain yang berbeda dari jenis gugus yang digunakan dalam analisis.
3. Pada kebanyakan kasus, jumlah parameter akan jauh lebih besar daripada jumlah senyawa sehingga secara statistik akan tidak signifikan.
Analisis QSAR-3D
Analisis QSAR tiga dimensi (3D) dikembangkan sebagai antisipasi permasalahan pada analisis Hansch, yaitu senyawa-senyawa enantiomer yang memiliki kuantitas sifat fisikakimia yang sama, tetapi memiliki aktivitas biologis yang berbeda. Ternyata diketahui bahwa efek stereokimia memegang peranan penting pada harga aktivitas biologis obat.
Metode QSAR-3D memnggunakan prosedur analisis perbandingan medan molecular atau Comparative Molecular Field Analysis (CoMFA) yang dikemukakan oleh Cramer dkk, (1988). CoMFA berusaha untuk menyusun suatu hubungan antara aktivitas biologis da sifat sterik dan atau elektrostatik dari suatu seri senyawa.
Prosedur CoMFA diawali dengan mendefenisikan aturan superposisi suatu seri senyawa-senyawa, kemudian dilakukan perhitungan energi sterik dan energi interaksi elektrostatik dengan atom-atom dari masing-masing senyawa pada setiap titik kisi (grid point) dalam suatu ruang tiga dimensi. Hasil dari prosedur ini adalah suatu matriks dengan jumlah kolom energi (energi interaksi medan) lebih banyak dari pada jumlah baris senyawa.
Untuk memperoleh persamaan linier dari matriks tersebut menggunakan metode analisis regresi yang disebut Partial Least Squares (PLS).
Beberapa penelitian melaporkan penggunaan deskriptor topologis atau konektivitas molekular dalam studi QSAR-3D.
Teknik Statistik
Komputasi Kimia menghadirkan struktur molekular sebagai suatu model numerikal dan mensimulasi sifatnya dengan persamaan dari kuantum dan ilmu fisika klasik. Program tersedia memungkinkan ilmuwan dengan mudah menghasilkan dan berpresentasi data molekular yang termasuk geometri, energi dan sifat yang berhubungan (elektronik, spectroscopic dan bulk). Paradigma yang biasa untuk mempertunjukkan dan memanipulasikan data ini adalah suatu tabel pada mana senyawa didefinisikan oleh baris individu dan sifat molekular (atau deskriptor) didefinisikan oleh kolom yang berhubungan. Suatu HKSA berusaha untuk menemukan hubungan konsisten antara variasi pada nilai-nilai dari sifat molekular dan aktivitas biologis untuk suatu seri-seri dari senyawa sedemikian sehingga ini ” aturan” dapat digunakan untuk mengevaluasi keseluruhan bahan kimia baru.
Suatu QSAR [yang] secara umum menggunakan bentuk dari suatu persamaan linier
Aktivitas
Biologis = Const + (C1 .P1) + (C2 .P2) + (C3 .P3) +…
dimana parameter P1 melalui Pn dihitung untuk masing-masing molekul pada seri-seri dan koefisien C1 melalui Cn dikalkulasikan dengan mencocokkan variasi pada parameter dan aktivitas biologis. Karena hubungan ini adalah secara umum ditemukan melalui aplikasi dari teknik-teknik statistik.
Persamaan HKSA adalah model linier yang mana merelasikan variasi pada aktivitas biologis kepada variasi pada nilai-nilai dari sifat terhitung (atau terukur) untuk suatu seri-seri dari molekul. Selama metode untuk mengerjakan secara efisien, senyawa diseleksi untuk menggambarkan “chemical space” dari eksperimen (perangkat percobaan) harus berbeda. Pada sintesis berikutnya, senyawa disiapkan yang secara struktural serupa kepada struktur induk. Yang tak anehnya, nilai aktivitas untuk seri-seri dari senyawa akan sering memutar suatu kisaran yang dibatasi juga. Pada kasus ini, senyawa tambahan harus dibuat dan diuji untuk mengisi perangkat percobaan.
Perlu untuk mengembangkan suatu pemahaman dari faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas di dalam seri-seri ini molekul dan menggunakan pemahaman ini untuk memprediksi aktivitas untuk senyawa baru. Dalam rangka memenuhi obyektif ini, membutuhkan:
1. Pengukuran data pengikatan dengan ketepatan cukup untuk membedakan antara senyawa;
2. Seperangkat parameter yang dapat dengan mudah diperoleh dan yang nampaknya akan direlasikan dengan afinitas reseptor;
3. Suatu metode untuk mendeteksi suatu hubungan antara parameter dan data ikatan (HKSA) dan
4. Suatu metode untuk menvalidasikan HKSA itu.
Sekali ketika data biologis telah dikumpulkan, sering ditemukan bahwa data diekspresikan dalam hal yang mana tidak dapat digunakan pada suatu analisis QSAR. Karena QSAR didasarkan dalam hubungan dengan energi bebas dengan tetapan keseimbangan, data untuk suatu studi QSAR harus diekspresikan dalam kaitan dengan perubahan-perubahan energi bebas yang terjadi selama respon biologis. Bilamana memeriksa potensi dari suatu obat (dosis tertentu dibutuhkan untuk memproduksi suatu efek biologis), perubahan pada energi bebas dapat dikalkulasikan menjadi sebanding kepada invers logaritma dari konsentrasi senyawa.
G0= –
2.3RTlogK= log 1/[S]
Lebih lanjut, karena data biologis secara umum ditemukan menjadi miring, transformasi log memindahkan data itu pada suatu distribusi normal. Jadi, ketika mengukur respon di bawah kondisi keseimbangan, transformasi yang paling sering digunakan adalah untuk mengekspresi nilai-nilai konsentrasi (seperti misalnya IC50, EC50, dll.) sebagai log[C] atau log 1/[C].
Ada beberapa kelas potensial dari parameter digunakan pada studi-studi HKSA. Substituent yang konstan dan parameter fisika-kimia lain (seperti misalnya konstanta sigma Hammett) mengukur efek-efek yang elektronik dari suatu gugus pada molekul. Hitung Fragmen digunakan untuk menyebut satu persatu kehadiran dari substruktur spesifik. Parameter lain dapat meliputi topological deskriptor dan nilai-nilai diderivatkan dari kalkulasi kimia kuantum.
Seleksi parameter-parameter adalah suatu langkah pertama penting pada manapun studi HKSA. Jika asosiasi antara parameter yang diseleksi dan aktivitas adalah kuat, kemudian prediksi aktivitas akan jadi mungkin. Jika ada hanya asosiasi lemah, mengetahui nilai dari parameter tidak akan membantu pada memprediksikan aktivitas. Jadi, untuk suatu studi yang diberikan, parameter harus diseleksi yang mana berkaitan dengan aktivitas untuk seri-seri dari molekul yang diinvestigasi dan parameter ini harus mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pada suatu cara konsisten.
Metode Kimia Kuantum dalan Kimia Komputasi
Kimia kuantum didasarkan pada postulat mekanika kuantum. Dalam kimia kuantum, sistem digambarkan sebagai fungsi gelombang yang dapat diperoleh dengan menyelesaikan persamaan Schroedinger. Persamaan ini terkait dengan sistem dalam keadaan stationer dan energinya dinyatakan dalam operator Hamiltonian. Operator Hamiltonian dapat dilihat sebagai aturan untuk mendapatkan energi terasosiasi dengan sebuah fungsi gelombang yang menggambarkan posisi dari inti atom dan elektron dalam sistem. Dalam prakteknya, persamaan Schroedinger tidak dapat diselesaikan secara eksak sehingga beberapa pendekatan harus dibuat. Pendekatan sinamakan ab initio jika metoda tersebut dibuat tanpa menggunakan informasi empiris, kecuali untuk konstanta dasar seperti massa elektron, konstanta Planck dll yang diperlukan untuk sampai pada prediksi numerik. Jangan mengartikan kata ab initio sebagai penyelesaian eksak, teori ab initio adalah suatu konsep pengembangan yang bersifat umum dan keunggulan secara praktis adalah kesuksesan dan kesalahannya sedikit banyak terprediksi.
Ketidakunggulan metode ab initio kimia kuantum adalah kebutuhan yang besar terhadap kemampuan komputer. Dengan demikian pendekatan dapat dimasukan ke dalam metode ini dengan beberapa parameter empiris sehingga dihasilkan metode yang baru dikenal dengan semiempiris kimia kuantum yang dapat diterapkan dalam sistem yang lebih besar dan menghasilkan fungsi gelombang elektronik yang memadai sehingga sifat elektronik dapat terprediksi. Dibandingkan dengan perhitungan ab initio, reabilitas mereka rendah dan penerapan metode semi empris dibatasi pada ketersediaan parameter empiris seperti halnya pada mekanika molekular.
Secara umum kimia kuantum hanya dapat diterapkan pada sistem kecil untuk mendapatkan ketelitian yang tinggi. Metode ini dapat memprediksi sifat elektronik seperti momen elektronik, polarizabilitas, konstanta pergeseran kimia pada NMR dan ESR, juga dapat pula diterapkan pada sistem non standar yang tidak mungkin diselesaikan dengan mekanika molekular karena tidak tersedianya parameter yang valid. Sebagai contoh adalah ikatan pi, senyawa organometalik, atau sistem lain yang mempunyai jenis ikatan yang tidak umum, keadaan eksitasi, zat antara reaktif dan secara struktur umum dengan efek elektronik yang tidak umum.
Analisis Konformasi Menggunakan Simulasi Molekular
Perhitungan simulasi molekular telah menjadi pendekatan standar untuk menggambarkan sifat-sifat konformasi dari makromolekul dan untuk menguji struktur prediksi dari molekul yang didesain. Dua metode digunakan dalam simulasi molekular tersebut, yakni (1) Molecular Mechanic (MM) dan (2) Molecular Dynamics atau Monte Carlo Simulation. Perhitungan MM dapat menghasilkan suatu konformasi molekul tersier atau energi konformasi relatif dari berbagai bentuk konformasi yang memungkinkan dari molekul tersebut. Kajian Monte Carlo dapat digunakan untuk menghitung pergerakan atom dalam molekul, sifat-sifat dinamik dan termodinamik seperti entropi, entalpi, dan perbedaan energi bebas.
Inti dari teknik modelling adalah suatu seri dari fungsi energi potensial medan gaya (force field). Energi potensial suatu sistem merupakan fungsi dari koordinat yang menggambarkan tiap bagian energi multidimensi dari system. Medan gaya dirancang berdasarkan gambaran fisikakimia dari interaksi molekul. Beberapa parameter yang dapat dihitung berdasarkan medan gaya statu molekul antara lain ikatan van der waals, sudut torsi, panjang ikatan, sudut ikatan, jarak antar atom, energi bebas permukaan, dll.
Beberapa medan gaya secara rutin digunakan dalam perhitungan energi molekul dari peptide. Penerapannya meliputi ECEPP/2, AMBER, GROMOS, CHARMM, CHARMm, CVFF dan MM2/3. Medan gaya AMBER, CHARMM dan CVFF telah digunakan secara luas dalam paket-paket software komersial. Software dan metode tersebut tersedia untuk desain obat berbasis komputer.
Salah satu software yang telah dikomersilkan yakni program Hyperchem®, yaitu suatu program kimia aplikasi 32 bit yang dikembangkan oleh Hyper Cube Inc. untuk system operasi windows 95/98 dan windows NT. Program ini menyediakan fasilitas pembuatan model 3D, perhitungan mekanika molekular dan mekanika kuantum (Semi empiric dan ab initio). Disamping itu tersedia pula data base dan program simulasi Monte carlo dan Molecular Dynamic (MD). Program ini juga dilengkapi dengan fasilitas untuk membuat struktur cristal (crystal builder), molecular presentations, sequence editor, sugar builder, conformation search, QSAR properties, dan script editor
Desain Obat Dengan Bantuan Komputer (Computer-assisted Drug Design)
Computer-assisted drug design (CADD) biasa juga disebut computer-assisted molecular design (CAMD) merupakan aplikasi komputer lebih terkini sebagai perangkat dalam proses desain obat. Perlu diketahui bahwa komputer hanya merupakan perangkat pembantu untuk meningkatkan pengetahuan menjadi lebih baik terhadap permasalahan kimia dan biologi yang dihadapi.
Aplikasi langsung dari CADD yakni membantu membuat dan menemukan suatu ligan prediksi (the putative drug) yang akan berinteraksi dengan daerah target pada suatu reseptor. Ikatan ligan dengan reseptor dapat meliputi interaksi hidrofobik, elektrostatik, dan ikatan hidrogen. Selanjutnya, energi solvasi dari ligan dan bagian reseptor juga penting karena desolvasi secara parsial maupun sempurna pasti menjadi prioritas ikatan.
Pendekatan CADD mengoptimalkan kesesuaian ligan dengan suatu bagian aktif (site) pada receptor. Bagaimana pun kesesuain optimal dalam suatu site target tidak menjamin bahwa aktivitas yang diinginkan dari suatu obat akan meningkat atau efek samping yang tidak diinginkan akan diminimalkan. Lagi pula pendekatan ini tidak mempertimbangkan farmakokinetika dari obat.
Pendekatan yang digunakan dalam CADD bergantung pada informasi yang tersedia tentang ligan dan reseptor. Idealnya, suatu kajian sebaiknya memiliki informasi struktur 3D tentang receptor dan kompleks ligan-reseptor dari data difraksi sinar X dan NMR, tetapi jarang terealisasi. Sebaliknya, suatu kajian boleh tidak memiliki data eksperimen untuk membantu dalam membangun model-model ligan dan receptor, dalam beberapa kasus, metode komputasi harus digunakan tanpa keharusan menyediakan data eksperimen.
Berdasarkan informasi yang tersedia, suatu kajian dapat menggunakan metode desain molekular berbasis ligan atau receptor. Pendekatan berbasis ligan dapat digunakan jika struktur site receptor tidak diketahui, tetapi suatu seri senyawa yang telah diidentifikasi menujukan aktivitas yang menarik. Agar dapat digunakan lebih efektif, suatu kajian sebaiknya memiliki senyawa-senyawa yang mirip dengan aktivitas yang tinggi, tanpa aktivitas, dan dengan aktivitas yang menengah. Dalam mengenal pemetaan bagian yang aktif dari suatu senyawa (site mapping), suatu usaha dilakukan untuk mengidentifikasi suatu pharmacophore, suatu bentuk struktur analog dari senyawa tersebut. Pharmacophore merupakan suatu perwujudan dari sekumpulan kelompok gugus-gugus fungsi dalam bentuk tiga dimensi yang mengisi geometri dari site reseptor.
Pendekatan berbasis reseptor pada aplikasi CADD jika suatu model yang dapat dipercaya dari site receptor tersedia, dalam bentuk difraksi sinar X, NMR, atau modelling senyawa homolog. Dengan tersedianya site reseptor, masalah pada desain ligan yang akan berinteraksi dengan baik pada site, yakni masalah perkaitan (docking)
Penutup
Perkembangan teknologi bidang komputasi Sangat membantu perkembangan ilmu farmakokimia dalam memprediksi aktivitas biologis suatu senyawa secara cepat, akurat dan murah.
Referensi
Kubinyi, H.,1993,QSAR:Hansch Analysis and Related Approaches, VCH, New York, USA.
Siswandono dan Bambang Sukarjo, 1998, Prinsip-prinsip Rancangan Obat, Airlangga University Press, Surabaya.
Sardjoko, 1993, Rancangan Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Bravi, G.,E. Garcia, D.V.S. Green, M.M. Hann, 2000, Modelling Structure – Activity Relationship; Virtual Screening for Bioactive Molecules, vol. 10., Wiley-VCH, Basel, Germany.
Pranowo, H.D.,2000, Metoda Kimia Kuantum dalam Kimia Komputasi, Pusat Kimia Komputasi Indonesia Austria, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Prammer, K.V., M. Winter, T. Kieber Emmons, 1995, Biocomputational Approaches in Protein-Based Drug Design; Chemical and Structural Approaches to Rational Drug Design, CRC Press, USA
Bravi, G.,E. Garcia, D.V.S. Green, M.M. Hann, 2000, Modelling Structure – Activity Relationship; Virtual Screening for Bioactive Molecules, vol. 10., Wiley-VCH, Basel, Germany.
Pranowo, H.D.,2000, Metoda Kimia Kuantum dalam Kimia Komputasi, Pusat Kimia Komputasi Indonesia Austria, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Prammer, K.V., M. Winter, T. Kieber Emmons, 1995, Biocomputational Approaches in Protein-Based Drug Design; Chemical and Structural Approaches to Rational Drug Design, CRC Press, USA
Desain
Obat Baru dengan Metode Kimia Komputasi
Pendahuluan
Secara umum telah dibuktikan bahwa struktur, komposisi, atau
sifat fisis dari suatu senyawa yang secara langsung mempengaruhi aktifitas
biologisnya untuk mencapai suatu target/penyakit. Untuk mempelajari interaksi
suatu melokul obat dengan reseptornya dan mempelajari potensi suatu molekul
sebagai obat dengan peninjauan aspek struktur elektronik atau aspek kimia
kuantum molekul tersebut digunakan metode kimia komputasi.
Kimia komputasi telah berkembang pesat terutama berkaitan dengan
perhitungan kimia kuantum dan berbagai terapan untuk berbagai bidang ilmu
lainnya. Salah satu bidang yang banyak menggunakan aplikasi kimia komputasi
berupa HKSA (Hubungan Kuantitatif Struktur–Aktivitas) atau QSAR (Quantitative Structure–Activity Relationship) adalah
kimia medisinal. HKSA ini yang kemudian dapat membantu peneliti dalam
mensintesis senyawa obat. Kimia komputasi dapat menghasilkan gambaran struktur
melokul dalam berbagai model dan mempunyai aktifitas yang sama dengan penyamaan
kuantum dari fisika klasik.
HKSA sejak abad ke-19. Pada 1863, A.F.A. Cros di Universitas
dari Strasbourg mengobservasi toksisitas alkohol pada binatang menyusui semakin
meningkat dengan daya larut dalam air dari alkohol tersebut yang menurun. Pada
1890’s, Hans Horst Meyer dari Universitas dari Marburg dan Charles Overton
Ernest dari Universitas dari Zurich, Bekerja secara independen, mencatat bahwa
toksisitas dari senyawa organik bergantung pada lipofilisitasnya.
Sedikit perkembangan tambahan dari HKSA telah terjadi sampai
pekerjaan dari Louis Hammett (1894-1987), yang mengkorelasikan sifat elektronik
dari asam organik dan basa-basa dengan reaktivitas dan tetapan keseimbangannya.
Peneliti telah mencoba selama bertahun-tahun obat-obat
untuk mengembangkan obat berdasarkan pada HKSA. Akses yang mudah sumber daya
komputasi tidak tersedia ketika usaha ini mulai, maka usaha berisi secara
primer dari korelasi statistik dari deskriptor struktural dengan
aktivitas-aktivitas biologis. Akan tetapi, akses pada stasiun-kerja grafik dan
komputer kecepatan tinggi menjadi hal yang biasa, bidang ini telah meningkatkan
ke dalam apa yang adalah sering diistilahkan disain obat rasional atau disain
obat computer-assisted.
HKSA Merupakan metode untuk membuat suatu hubungan antara struktur dan
aktifitas dari berbagai deskriptornya. Deskriptor-deskriptor Fisikokimia
meliputi beberapa parameter termasuk hidrofobisitas atau lifopilisitas,
topologi, elektronik dan sterik, yang dilakukan secara empirik atau yang lebih
baru dengan metode komputasi. HKSA digunakan dalam pengukuran aktivitas bahan
kimia dan pengujian biologis. HKSA sekarang diterapkan dalam berbagai disiplin
ilmu dengan banyak menyinggung kedesain obat dan penilaian resiko lingkungan.
Desain Obat
Tujuan utama upaya merancang/desain suatu obat dalam ilmu kimia
medisinal adalah supaya dapat ditemukan suatu molekul yang akan menghasilkan
efek biologis yang bermanfaat tanpa berakibat efek biologis yang merugikan.
Sebagai contoh, suatu senyawa yang dapat menurunkan tekanan darah dapat juga
memiliki efek samping pada sistem syaraf pusat. Dengan demikian merupakan suatu
kesalahan apabila tujuan utama akan dapat tercapai dengan sempurna, tetapi efek
negatif obat tersebut juga cukup merugikan.Taylor dan Kennewal memberi batasan
kimia medisinal yang lebih spesifik sebagai yaitu studi kimiawi senyawa atau
obat yang dapat memberikan efek menguntungkan dalam sistem kehidupan, yang
melibatkan studi hubungan kimia senyawa dengan aktivitas biologis dan model
kerja senyawa pada sistem biologis, dalam usaha mendapatkan efek terapetik obat
yang maksimal dan memperkecil efek samping yang tidak diinginkan.
Desain obat dapat dibagi menjadi 2 kategori, langsung dan tidak
langsung. Pendekatan langsung (Direct Approach)
menguntungkan dari segi pengetahuan tentang struktur atom dari reseptor obat
dan memegang peranan penting dalam penelitian di bidang farmasi. Pendekatan
tidak langsung (Indirect Approach) merupakan
pendekatan yang diterapkan program penelitian kimia medicinal pada umumnya,
dimana tidak ada informasi secara terstrukur tentang reseptor target. Kedua
pendekatan tersebut meliputi optimalisasi suatu senyawa penuntun atau
senyawa-senyawa hasil sintesis dari molekul baru
Metode komputasi memberikan dukungan yang sangat penting
terhadap kedua pendekatan tersebut. Beberapa perangkat spesifik untuk desain
obat secara langsung mencoba menghasilkan desain de novo untuk molekul-molekul dengan terhadap
reseptor tertentu berdasarkan struktur reseptor tersebut. Perkembangan sekarang
termasuk mencoba untuk membentuk molekul dengan suatu bagian yang aktif dan
keberhasilan metode penelusuran data base 3D dari Desjarlanis dkk.
Pendekatan-pendekatan yang paling berarti dalam lingkup desain obat secara
tidak langsung didasarkan penggunaan metode statistic terhadap desain seri
molekul-molekul untuk sintesis dan analisis HKSA dalam hal data yang berkaitan
dengan obat.
Suatu pendekatan yang sempurna awalnya dikembangkan di Marshall’s Laboratory di St. Louis, yakni membuat
model-model tiga dimensi dari ikatan reseptor dengan obat dengan membandingkan
afinitas terhadap suatu reseptor yang sama dari beberapa molekul yang berbeda
berdasarkan struktur molekul-molekul tersebut. Model-model tersebut merupakan
dasar untuk kajian COMFA (Comparative molecular field
analysis), yang mengijinkan para desainer obat untuk memprediksi
aktivitas molekul-molekul hipotesis berdasarkan data 3D ligan-ligan terhadap
suatu reseptor dengan struktur yang tidak diketahui dan penelusuran data base
3D terhadap senyawa penuntun.
Metode yan digunakan dalam kajian HKSA
Kajian HKSA berdasarkan parameter yang digunakan digolongkan dalam 3 metode,
yaitu: metode Hansch, metode Fee-Wilson, dan metode QSAR-3D atau CoMFA
(Comparative Molecular Field Analysis).
Metode Hansch
Metode
Hansch dikembangkan oleh Hansch pada tahun 1964. Model Hanch mengasumsikan
aktivitas biologis sebagai fungsi dari parameter-parameter hidrofobisitas (π),
elektronik (σ), dan sterik (Es) yang
terdapat pada molekul, yang dapat dinyatakan secara matematis sebagai persamaan
(II,3) berikut:
Log A = aΣπ + bΣ σ + cΣ Es + d
Notasi a,b,c dan d mmenyatakan
tetapan persamaan regresi. Notasi π adalah tetapan hidrofobisitas
subsituen menurut Hansch-Fujita, σ adalah tetapan hammet yan menyatakan sifat
elektronik, dan Es adalah
tetapan subtituen sterik menurut Taft. Ketiga parameter tersebut diperoleh dari
pendekatan ekstratermodinamika atau model kaitan linear energi bebas (Linear Free Energy Relationship), yaitu suatu
model matematik yang dikembangkan dari hubungan reaktivitas kimia dengan
parameter subtituen yang dikemukaan oleh Hammet pada tahun 1938.
Analisis Hansch kemudian dikembangkan dengan menggunakan parameter sifat
fisikokimia dari struktur molekul atau menggunakan beberapa parameter teoritis.
Parameter-parameter tersebut digunakan sebagai variabel bebas yang memberikan
aktivitas biologis. Istilah ”parameter” sebagai variabel bebas dalam analisis
QSAR sering disebut predikator atau deskriptor.
Metode Free-Wilson
Model Free-Wilson atau model de novo dikembangkan
oleh Free dan Wilson. Metode ini didasarkan pada perkiraan bahwa masing-masing
substituen pada struktur senyawa induk memberikan sumbangan yang tetap pada
aktivitas biologis. Sumbangan ini bersifat aditif dan tidak bersifat sumbangan
subtituen yang lain. Model Free-Wilson mengajukan model matematik (persamaan
II.4) yang memperkirakan bahwa aktivitas biologis sama dengan jumlah sumbangan
subtituen ditambah aktivitas biologi senyawa induk. (Free-Wilson, 1964).
Log A = Σ S +μ
S adalah sumbangan subtituen pada aktivitas keseluruhan senyawa
turunan senyawa induk dengan subtituen yang bersangkutan dan adalah aktivitas
biologis kerangka dasar atau senyawa induk.
Penyelesaian model Free-Wilson menggunakan matriks dan analisis
regresi miltilinear. Pada matriks ini substituen mendapat nilai indikator 1
jika terdapat dalam molekul dan mendapat nilai indikator 0 jika terdapat pada
molekul. Untuk senyawa rasemik, pengaruh suatu subtituen pada atom kiral
diberikan nilai indikator 0,5. selanjutnya untuk setiap struktur dikorelasikan
dengan harga aktivitas biologisnya dengan menggunakan analisis regresi
multilinear.
Keuntungan penggunaan model Free-Wilson adalah dapat dikerjakan
dengan cepat, sederhana, dan murah. Disamping pengetahuan tentang struktur
molekul dan aktivitas biologis yang sesuai, tidak diperlukan pengetahuan
tantang tetapan subtituen seperti σ, π, Es.
Metode Free-Wilson lebih efektif diterapkan jika uji aktivitas biologis lebih
lambat daripada sintesis senyawa turunan dan jika tidak tersedia tetapan
substituen.
Kelemahan metode Free-Wilson yaitu:
1.
penggunaan model Free-Wilson akan menghasilkan model persamaan
yang hanya dapat memprediksikan turunan baru dalam jumlah terbatas.
2.
tidak dapat digunakan untuk memprediksi gugus lain yang berbeda
dari jenis gugus yang digunakan dalam analisis.
3.
pada kebanyakan kasus, jumlah parameter akan jauh lebih besar
daripada jumlah senyawa sehingga secara statistik akan tidak signifikan.
Analisis QSAR-3D
Analisis QSAR tiga dimensi (3D) dikembangkan sebagai antisipasi
permasalahan pada analisis Hansch, yaitu senyawa-senyawa enantiomer yang
memiliki kuantitas sifat fisikakimia yang sama, tetapi memiliki aktivitas
biologis yang berbeda. Ternyata diketahui bahwa efek stereokimia memegang
peranan penting pada harga aktivitas biologis obat.
Metode QSAR-3D memnggunakan prosedur analisis perbandingan medan
molecular atauComparative Molecular Field Analysis (CoMFA) yang
dikemukakan oleh Cramer dkk, (1988). CoMFA berusaha untuk menyusun suatu
hubungan antara aktivitas biologis da sifat sterik dan atau elektrostatik dari
suatu seri senyawa.
Prosedur CoMFA diawali dengan mendefenisikan aturan superposisi
suatu seri senyawa-senyawa, kemudian dilakukan perhitungan energi sterik dan
energi interaksi elektrostatik dengan atom-atom dari masing-masing senyawa pada
setiap titik kisi (grid point) dalam suatu ruang tiga
dimensi. Hasil dari prosedur ini adalah suatu matriks dengan jumlah kolom
energi (energi interaksi medan) lebih banyak dari pada jumlah baris senyawa.
Untuk memperoleh persamaan linier dari matriks tersebut
menggunakan metode analisis regresi yang disebut Partial Least Squares (PLS).
Beberapa penelitian melaporkan penggunaan deskriptor topologis
atau konektivitas molekular dalam studi QSAR-3D.
Teknik Statistik
Komputasi Kimia menghadirkan struktur molekular sebagai suatu
model numerikal dan mensimulasi sifatnya dengan persamaan dari kuantum dan ilmu
fisika klasik. Program tersedia memungkinkan ilmuwan dengan mudah menghasilkan
dan berpresentasi data molekular yang termasuk geometri, energi dan sifat yang
berhubungan (elektronik, spectroscopic dan bulk). Paradigma yang biasa untuk mempertunjukkan
dan memanipulasikan data ini adalah suatu tabel pada mana senyawa didefinisikan
oleh baris individu dan sifat molekular (atau deskriptor) didefinisikan oleh
kolom yang berhubungan. Suatu HKSA berusaha untuk menemukan hubungan konsisten
antara variasi pada nilai-nilai dari sifat molekular dan aktivitas biologis
untuk suatu seri-seri dari senyawa sedemikian sehingga ini ” aturan” dapat
digunakan untuk mengevaluasi keseluruhan bahan kimia baru.
Suatu QSAR [yang] secara umum menggunakan bentuk dari suatu
persamaan linier
Aktivitas Biologis = Const + (C1 .P1) + (C2
.P2) + (C3 .P3) +…
dimana parameter P1 melalui
Pn dihitung untuk masing-masing molekul pada seri-seri dan
koefisien C1 melalui Cn dikalkulasikan
dengan mencocokkan variasi pada parameter dan aktivitas biologis. Karena
hubungan ini adalah secara umum ditemukan melalui aplikasi dari teknik-teknik
statistik.
Persamaan HKSA adalah model linier yang mana
merelasikan variasi pada aktivitas biologis kepada variasi pada nilai-nilai
dari sifat terhitung (atau terukur) untuk suatu seri-seri dari molekul. Selama
metode untuk mengerjakan secara efisien, senyawa diseleksi untuk menggambarkan
“chemical space” dari eksperimen (perangkat percobaan) harus berbeda. Pada
sintesis berikutnya, senyawa disiapkan yang secara struktural serupa kepada
struktur induk. Yang tak anehnya, nilai aktivitas untuk seri-seri dari senyawa
akan sering memutar suatu kisaran yang dibatasi juga. Pada kasus ini, senyawa
tambahan harus dibuat dan diuji untuk mengisi perangkat percobaan.
Perlu untuk mengembangkan suatu pemahaman dari faktor-faktor
yang mempengaruhi aktivitas di dalam seri-seri ini molekul dan menggunakan
pemahaman ini untuk memprediksi aktivitas untuk senyawa baru. Dalam rangka
memenuhi obyektif ini, membutuhkan:
• Pengukuran data pengikatan dengan ketepatan cukup untuk
membedakan antara senyawa;
• Seperangkat parameter yang dapat dengan mudah diperoleh
dan yang nampaknya akan direlasikan dengan afinitas reseptor;
• Suatu metode untuk mendeteksi suatu hubungan antara parameter
dan data ikatan (HKSA) dan
• Suatu metode untuk menvalidasikan HKSA itu.
Sekali ketika data biologis telah dikumpulkan, sering ditemukan
bahwa data diekspresikan dalam hal yang mana tidak dapat digunakan pada
suatu analisis QSAR. Karena QSAR didasarkan dalam hubungan dengan energi bebas
dengan tetapan keseimbangan, data untuk suatu studi QSAR harus diekspresikan
dalam kaitan dengan perubahan-perubahan energi bebas yang terjadi selama respon
biologis. Bilamana memeriksa potensi dari suatu obat (dosis tertentu dibutuhkan
untuk memproduksi suatu efek biologis), perubahan pada energi bebas dapat
dikalkulasikan menjadi sebanding kepada invers logaritma dari konsentrasi
senyawa.
G0= – 2.3RTlogK= log 1/[S]
Lebih lanjut, karena data biologis secara umum ditemukan menjadi
miring, transformasi log memindahkan data itu pada suatu distribusi normal.
Jadi, ketika mengukur respon di bawah kondisi keseimbangan, transformasi yang
paling sering digunakan adalah untuk mengekspresi nilai-nilai konsentrasi
(seperti misalnya IC50, EC50, dll.) sebagai log[C] atau log 1/[C].
Ada beberapa kelas potensial dari parameter digunakan pada
studi-studi HKSA. Substituent yang konstan dan parameter fisika-kimia lain
(seperti misalnya konstanta sigma Hammett) mengukur efek-efek yang elektronik
dari suatu gugus pada molekul. Hitung Fragmen digunakan untuk menyebut satu
persatu kehadiran dari substruktur spesifik. Parameter lain dapat meliputi
topological deskriptor dan nilai-nilai diderivatkan dari kalkulasi kimia
kuantum.
Seleksi parameter-parameter adalah suatu langkah pertama penting
pada manapun studi HKSA. Jika asosiasi antara parameter yang diseleksi dan
aktivitas adalah kuat, kemudian prediksi aktivitas akan jadi mungkin. Jika ada
hanya asosiasi lemah, mengetahui nilai dari parameter tidak akan membantu pada
memprediksikan aktivitas. Jadi, untuk suatu studi yang diberikan, parameter
harus diseleksi yang mana berkaitan dengan aktivitas untuk seri-seri dari
molekul yang diinvestigasi dan parameter ini harus mempunyai nilai-nilai yang
diperoleh pada suatu cara konsisten.
Metode Kimia Kuantum dalan Kimia Komputasi
Kimia kuantum didasarkan pada postulat mekanika kuantum. Dalam
kimia kuantum, sistem digambarkan sebagai fungsi gelombang yang dapat diperoleh
dengan menyelesaikan persamaan Schroedinger. Persamaan ini terkait dengan
sistem dalam keadaan stationer dan energinya dinyatakan dalam operator
Hamiltonian. Operator Hamiltonian dapat dilihat sebagai aturan untuk
mendapatkan energi terasosiasi dengan sebuah fungsi gelombang yang
menggambarkan posisi dari inti atom dan elektron dalam sistem. Dalam
prakteknya, persamaan Schroedinger tidak dapat diselesaikan secara eksak
sehingga beberapa pendekatan harus dibuat. Pendekatan sinamakan ab initio jika metoda tersebut dibuat tanpa
menggunakan informasi empiris, kecuali untuk konstanta dasar seperti massa
elektron, konstanta Planck dll yang diperlukan untuk sampai pada prediksi
numerik. Jangan mengartikan kata ab initio sebagai
penyelesaian eksak, teori ab initioadalah
suatu konsep pengembangan yang bersifat umum dan keunggulan secara praktis
adalah kesuksesan dan kesalahannya sedikit banyak terprediksi.
Ketidakunggulan metode ab initio kimia
kuantum adalah kebutuhan yang besar terhadap kemampuan komputer. Dengan
demikian pendekatan dapat dimasukan ke dalam metode ini dengan beberapa
parameter empiris sehingga dihasilkan metode yang baru dikenal dengan
semiempiris kimia kuantum yang dapat diterapkan dalam sistem yang lebih besar
dan menghasilkan fungsi gelombang elektronik yang memadai sehingga sifat
elektronik dapat terprediksi. Dibandingkan dengan perhitungan ab initio, reabilitas mereka rendah dan penerapan
metode semi empris dibatasi pada ketersediaan parameter empiris seperti halnya
pada mekanika molekular.
Secara umum kimia kuantum hanya dapat diterapkan pada sistem
kecil untuk mendapatkan ketelitian yang tinggi. Metode ini dapat memprediksi
sifat elektronik seperti momen elektronik, polarizabilitas, konstanta
pergeseran kimia pada NMR dan ESR, juga dapat pula diterapkan pada sistem non
standar yang tidak mungkin diselesaikan dengan mekanika molekular karena tidak
tersedianya parameter yang valid. Sebagai contoh adalah ikatan pi, senyawa organometalik,
atau sistem lain yang mempunyai jenis ikatan yang tidak umum, keadaan eksitasi,
zat antara reaktif dan secara struktur umum dengan efek elektronik yang tidak
umum.
Analisis Konformasi Menggunakan Simulasi Molekular
Perhitungan simulasi molekular telah menjadi pendekatan standar
untuk menggambarkan sifat-sifat konformasi dari makromolekul dan untuk menguji
struktur prediksi dari molekul yang didesain. Dua metode digunakan dalam
simulasi molekular tersebut, yakni (1) Molecular Mechanic (MM)
dan (2) Molecular Dynamics atau Monte Carlo Simulation. Perhitungan MM dapat
menghasilkan suatu konformasi molekul tersier atau energi konformasi relatif
dari berbagai bentuk konformasi yang memungkinkan dari molekul tersebut. Kajian Monte Carlo dapat digunakan untuk menghitung
pergerakan atom dalam molekul, sifat-sifat dinamik dan termodinamik seperti
entropi, entalpi, dan perbedaan energi bebas.
Inti dari teknik modelling adalah suatu seri dari fungsi energi
potensial medan gaya (force field). Energi potensial
suatu sistem merupakan fungsi dari koordinat yang menggambarkan tiap bagian
energi multidimensi dari system. Medan gaya dirancang berdasarkan gambaran
fisikakimia dari interaksi molekul. Beberapa parameter yang dapat dihitung
berdasarkan medan gaya statu molekul antara lain ikatan van der waals, sudut
torsi, panjang ikatan, sudut ikatan, jarak antar atom, energi bebas permukaan,
dll.
Beberapa medan gaya secara rutin digunakan dalam perhitungan
energi molekul dari peptide. Penerapannya meliputi ECEPP/2, AMBER,
GROMOS, CHARMM, CHARMm, CVFF dan MM2/3. Medan gaya AMBER, CHARMM dan CVFF telah
digunakan secara luas dalam paket-paket software komersial. Software dan metode tersebut tersedia untuk desain
obat berbasis komputer.
Salah satu software yang
telah dikomersilkan yakni program Hyperchem®, yaitu
suatu program kimia aplikasi 32 bit yang dikembangkan oleh Hyper Cube Inc.
untuk system operasi windows 95/98 dan windows NT. Program ini menyediakan
fasilitas pembuatan model 3D, perhitungan mekanika molekular dan mekanika
kuantum (Semi empiric danab initio).
Disamping itu tersedia pula data base dan program simulasi Monte carlo danMolecular Dynamic (MD).
Program ini juga dilengkapi dengan fasilitas untuk membuat struktur cristal
(crystal builder), molecular presentations,
sequence editor, sugar builder, conformation search, QSAR properties,
dan script editor
Desain Obat Dengan Bantuan Komputer (Computer-assisted Drug
Design)
Computer-assisted drug design (CADD) biasa juga
disebut computer-assisted molecular design (CAMD)
merupakan aplikasi komputer lebih terkini sebagai perangkat dalam proses desain
obat. Perlu diketahui bahwa komputer hanya merupakan perangkat pembantu untuk
meningkatkan pengetahuan menjadi lebih baik terhadap permasalahan kimia dan
biologi yang dihadapi.
Aplikasi langsung dari CADD yakni membantu membuat dan menemukan
suatu ligan prediksi (the putative drug) yang akan
berinteraksi dengan daerah target pada suatu reseptor. Ikatan ligan dengan
reseptor dapat meliputi interaksi hidrofobik, elektrostatik, dan ikatan
hidrogen. Selanjutnya, energi solvasi dari ligan dan bagian reseptor juga
penting karena desolvasi secara parsial maupun sempurna pasti menjadi prioritas
ikatan.
Pendekatan CADD mengoptimalkan kesesuaian ligan dengan suatu
bagian aktif (site) pada receptor. Bagaimana pun
kesesuain optimal dalam suatu site target
tidak menjamin bahwa aktivitas yang diinginkan dari suatu obat akan meningkat
atau efek samping yang tidak diinginkan akan diminimalkan. Lagi pula pendekatan
ini tidak mempertimbangkan farmakokinetika dari obat.
Pendekatan yang digunakan dalam CADD bergantung pada informasi
yang tersedia tentang ligan dan reseptor. Idealnya, suatu kajian sebaiknya
memiliki informasi struktur 3D tentang receptor dan kompleks ligan-reseptor
dari data difraksi sinar X dan NMR, tetapi jarang terealisasi. Sebaliknya,
suatu kajian boleh tidak memiliki data eksperimen untuk membantu dalam
membangun model-model ligan dan receptor, dalam beberapa kasus, metode
komputasi harus digunakan tanpa keharusan menyediakan data eksperimen.
Berdasarkan informasi yang tersedia, suatu kajian dapat
menggunakan metode desain molekular berbasis ligan atau receptor.
Pendekatan berbasis ligan dapat digunakan jika struktur site receptor tidak diketahui, tetapi suatu seri
senyawa yang telah diidentifikasi menujukan aktivitas yang menarik. Agar dapat
digunakan lebih efektif, suatu kajian sebaiknya memiliki senyawa-senyawa yang
mirip dengan aktivitas yang tinggi, tanpa aktivitas, dan dengan aktivitas yang
menengah. Dalam mengenal pemetaan bagian yang aktif dari suatu senyawa (site mapping), suatu usaha dilakukan untuk
mengidentifikasi suatu pharmacophore, suatu
bentuk struktur analog dari senyawa tersebut.Pharmacophore merupakan
suatu perwujudan dari sekumpulan kelompok gugus-gugus fungsi dalam bentuk
tiga dimensi yang mengisi geometri dari site reseptor.
Pendekatan berbasis reseptor pada aplikasi CADD jika suatu model
yang dapat dipercaya dari site receptor
tersedia, dalam bentuk difraksi sinar X, NMR, atau modelling senyawa homolog.
Dengan tersedianya site reseptor,
masalah pada desain ligan yang akan berinteraksi dengan baik pada site, yakni masalah perkaitan (docking)
Penutup
Perkembangan teknologi bidang komputasi Sangat membantu perkembangan
ilmu farmakokimia dalam memprediksi aktivitas biologis suatu senyawa secara
cepat, akurat dan murah.
Referensi
1.
Kubinyi, H.,1993,QSAR:Hansch Analysis and Related
Approaches, VCH, New York, USA.
2.
Siswandono dan Bambang Sukarjo, 1998, Prinsip-prinsip Rancangan Obat, Airlangga University
Press, Surabaya.
3.
Sardjoko, 1993, Rancangan Obat,
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
4.
Bravi, G.,E. Garcia, D.V.S. Green, M.M. Hann, 2000, Modelling Structure – Activity Relationship; Virtual
Screening for Bioactive Molecules, vol. 10., Wiley-VCH, Basel, Germany.
5.
Pranowo, H.D.,2000, Metoda Kimia Kuantum dalam
Kimia Komputasi, Pusat Kimia Komputasi Indonesia Austria, Jurusan
Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
6.
Prammer, K.V., M. Winter, T. Kieber Emmons, 1995, Biocomputational Approaches in Protein-Based Drug Design;
Chemical and Structural Approaches to Rational Drug Design, CRC Press, USA.
bahas bahas yuk kali aja bisa bermanfaat dan menambah ilmu :)
1. kenapa senyawa obat harus dirancang menjadi senyawa obat baru ??
2. apa keunggulan dari senyawa obat baru ??
3.apa perbedaan dari rancangan obat baru dan obat lainnya ??
4. jelaskan metode apa yang digunakan dalam perancangan ??
5 deskripsikan pendapatmu tentang perancangan obat baru ini !!
bahas bahas yuk kali aja bisa bermanfaat dan menambah ilmu :)
1. kenapa senyawa obat harus dirancang menjadi senyawa obat baru ??
2. apa keunggulan dari senyawa obat baru ??
3.apa perbedaan dari rancangan obat baru dan obat lainnya ??
4. jelaskan metode apa yang digunakan dalam perancangan ??
5 deskripsikan pendapatmu tentang perancangan obat baru ini !!
Pada proses penyederhanaan molekul dapat dilakukan dengan metode pemecahan. Coba saudara jelaskan metode tersebut?
BalasHapusYaa saya setuju
HapusJelaskan bagaimana cara penentuan pemodifikasian senyawa obt baru ??
BalasHapuspada saat kapan Metode Hansch digunakan?
BalasHapusMetode hansch digunakan dalam kajian HKSA. Metode Hansch dikembangkan oleh Hansch pada tahun 1964. Model Hanch mengasumsikan aktivitas biologis sebagai fungsi dari parameter-parameter hidrofobisitas (π), elektronik (σ), dan sterik (Es) yang terdapat pada molekul.
HapusTujuan utama upaya merancang/desain suatu obat adalah supaya dapat ditemukan suatu molekul yang akan menghasilkan efek biologis yang bermanfaat tanpa berakibat efek biologis yang merugikan.
BalasHapus1. untuk meningkatkan efek terapi dan meminimalisasi efek samping.
BalasHapusmenurunkan resiko toksisitas dan memperbaiki profil absorbsi serta bioavailabilitas obat
Hapus2. obat baru biasanya memiliki efektivitas yang lebih baik, karena dirancang dari obat seblumnya. jadi ES juga lebih sedikit
BalasHapusnmr 2
BalasHapuskeunggulannya biasanya efek terapi yg di hasilkan lbh cpt
Keuntungannya banyaakkk
BalasHapusMisalnya obat dibuat lebih lipofil sehingga mudah masuk membran. Bisa juga menghilanhkan efek samping tertentu, atau bahkan meningkatkan aktivitasnya
untuk pertanyaan nomor 2. keunggalannya agar mendapatkan efek terapi yang baik dan efektifitas yang baik juga
BalasHapussaya akan coba jawab nomor 5,salah satu dari metode itu adalah,Metode komputasi memberikan dukungan yang sangat penting terhadap kedua pendekatan tersebut. Beberapa perangkat spesifik untuk desain obat secara langsung mencoba menghasilkan desain de novo untuk molekul-molekul dengan terhadap reseptor tertentu berdasarkan struktur reseptor tersebut. Perkembangan sekarang termasuk mencoba untuk membentuk molekul dengan suatu bagian yang aktif dan keberhasilan metode penelusuran data base 3D dari Desjarlanis dkk. Pendekatan-pendekatan yang paling berarti dalam lingkup desain obat secara tidak langsung didasarkan penggunaan metode statistic terhadap desain seri molekul-molekul untuk sintesis dan analisis HKSA dalam hal data yang berkaitan dengan obat
BalasHapussaya akan menwab no.1
BalasHapusuntuk mendapatkan obat dengan efek samping yang minimum (aman digunakan), bekerja lebih selektif, masa kerja yang lebih lama, dan meningkatkan kenyamanan pemakaian obat.
4. metode apa yang digunakan dalam perancangan ?
BalasHapus1. Pembuatan seri senyawa homolog
2. Mengubah jeni atau kedudukan substituen pada rantai samping
3. Mengganti bagian yang kurang penting dan mempertahankan gugus fungsi yang ada
4. Melakukan penyederhanaan struktur
5. Konversi produk alami
6. Penggunaan prinsip isoterik
Pertanyaan nomor 2, obat rancangan baru memiliki keunggulan dimana efek terapi obat lebih cepat dan baik, serta efek samping obat yg lebih minim. Semua bergantung pada keuntungan tiap obat baru yang dihasilkan.
BalasHapusSaya akan menambahkan jawaban no 1,
BalasHapuskarena obat harus dirancang menjadi senyawa baru untuk meminimalkan efek samping dari obat,atau menghilangkan obat yang berakibat toksik
Saya akan menambahkan jawaban no 1,
BalasHapuskarena obat harus dirancang menjadi senyawa baru untuk meminimalkan efek samping dari obat,atau menghilangkan obat yang berakibat toksik
hai nola, saya akan membantu menjawab pertanyaan no 2.Menurut pendapat saya, keunggulan dari senyawa obat baru adalah minimnya efek samping yang ditimbulkan karena biasanya senyawa obat dirancang atau dimodifikasi dengan tujuan mengurangi atau bahkan meniadakan efek samping yang serius sehingga pengunaannya akan lebih aman bagi tubuh
BalasHapusTujuan mendesign obat baru adalah untuk menemukan suatu obat yang mempunyai aktivitas lebih baik dengan efek samping yang lebih rendah dari obat yang sudah ada dan membuat obat berdasarkan prevalensi penyakit sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat
BalasHapusTujuan utama upaya merancang/desain suatu obat adalah supaya dapat ditemukan suatu molekul yang akan menghasilkan efek biologis yang bermanfaat tanpa berakibat efek biologis yang merugikan
BalasHapusThis is good
BalasHapusno 1
BalasHapusuntuk mendapatkan efek terapi yang lebih baik dan efek samping yang minimal
yap, benar sekali, contohnya pada morfin, dengan memodifikasi morfin maka kta dapat menambah efek utamanya, dan menurunkan efek sampingnya..
Hapus