ANALGETIKA
ANALGETIKA
#nolamalini24@gmail.com
ANALGETIK
@Definisi
Analgetik atau penghalang rasa nyeri adalah zat-zat yang mengurangi
atau menghalau rasa nyeri
tanpa menghilangkan kesadaran. Analgetik anti inflamasi di duga bekerja
berdasarkan penghambatan sintesis prostaglandin (mediator nyeri).
Nyeri merupakan suatu
pengalaman sensorik dan motorik yang tidak menyenangkan, berhubungan dengan
adanya potensi kerusakan jaringan atau kondisi yang menggambarkan kerusakan
tersebut. Gejala Nyeri dapat
digambarkan sebagai rasa benda tajam yang menusuk, pusing, panas seperti rasa
terbakar, menyengat, pedih, nyeri yang merambat, rasa nyeri yang
hilang timbul dan berbeda tempat nyeri.
Obat ini digunakan untuk
membantu meredakan sakit, sadar tidak sadar kita sering mengunakannya misalnya
ketika kita sakit kepala atau sakit gigi, salah satu komponen obat yang kita
minum biasanya mengandung analgetik atau pereda nyeri.

Analgetika
atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetika umum). Nyeri
adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan
(ancaman) kerusakan jaringan. keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri,
misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala) atau memperhebatnya, tetapi
dapat pula menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. nyeri merupakan suatu
perasaan seubjektif pribadi dan ambang toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap
orang. batas nyeri untuk suhu adalah konstan, yakni pada 44-45°C (Tjay, 2007).
@Penggolongan nyeri
Rasa nyeri sendiri dapat di bedakan dalam tiga kategori
diantaranya yaitu:
1) Analgetik Perifer
Analgetik Perfer yaitu mengenai
rasa nyeri dan demam. Rasa nyeri merupakan suatu gejala yang berfungsi
melindungi tubuh. Demam juga adalah suatu gejala dan bukan merupakan penyakit
tersendiri. Kini para ahli berpendapat bahwa demam adalah suatu reaksi tangkis
yang berguna dari tubuh terhadap infeksi. Pada suhu di atas 37˚C limfosit dan
mikrofag menjadi lebih aktif. Bila suhu melampaui 40-41˚C, barulah terjadi
situasi krisis yang bisa menjadi fatal, karena tidak terkendalikan lagi oleh
tubuh.
2) Analgetik
Antiradang dan
Obat-Obat Rema
Analgetik antiradang di sebut juga Arthritis, adalah nama
gabungan untuk dari seratus penyakit yang semuanya bercirikan rasa nyeri dan
bengkak, serta kekakuan otot dengan terganggunya fungsi alat-alat penggerak
(sendi dan otot). Yang paling banyak di temukan adalah artrose (arthiritis deformansi) (Yun.arthon =
sendi,Lat.deformare = cacat bentuk), di sebut juga osteoartrose atau osteoarthritis.
Bercirikan degenerasi tulang rawan yang menipis sepanjang
progress penyakit, dengan pembentukan tulang baru, hingga ruang di antara sendi
menyempit.
3) Analgetik Narkotik
Analgetik narkotik, kini di sebut juga Opioida (mirip opiat), adalah
zat yang bekerja terhadap reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri
dan respons emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi).
@Gejala dan Penyebab
1. Gejala
Gejala yang khas berupa bengkak
dan nyeri simetris di sendi-sendi tersebut. Nyeri ini paling hebat waktu bangun
pagi dan umumnya
berkurang setelah melakukan aktivitas. Nyeri waktu malam dapat menyulitkan
tidur. Sendi-sendi ini menjadi kaku waktu pagi (morning stiffness),
sukar digerakkan dan kurang bertenaga, khususnya juga setelah bangun selama 1-2
jam lebih. Gejala lainnya adalah perasaan lelah dan malas. Pada lebih kurang
20% dari pasien terdapat benjolan-benjolan kecil (noduli), terutama di
jari-jari serta pergelangan tangan dan kaki.
2. Penyebab
Mediator nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi
radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung-ujung
saraf bebas di kulit, mukosa dan dan jaringan lain. Nociceptor ini
terdapat di seluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di SSP. Dari sini
rangsangan di salurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron
dengan amat banyak sinaps via sumsum
belakang, sumsum lanjutan, dan otak tengah. Dari thalamus (opticus)
impuls kemudian di teruskan ke pusat nyeri di otak besar, di mana impuls
dirasakan sebagai nyeri.
Ada
juga beberapa macam yang menyebabkan nyeri di antaranya sendi yang di bebani
terlalu berat dengan kerusakan mikro yang berulang kali, seperti pada orang
yang terlampau gemuk, juga akibat arthritis septis atau arthritis laid an
tumbuhnya pangkal paha secara abnormal (dysplasia). Hanya sebagian kecil
kasus yang disebabkan keausan akibat penggunaan terlalu lama dan berat.
@Golongan Obat
Atas dasar kerja farmakologinya,analgetik di bagi menjadi
dua golongan obat kelompok besar,yakni:
1)
Analgetik Non-narkotik
Golongan Analgetik ini dibagi menjadi dua, yaitu :
A.
Analgetik
perifer
Analgetik
perifer memiliki khasiat sebagai anti piretik yaitu menurunkan suhu badan pada
saat demam. Khasiatnya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di
hipotalamus, mengakibatkan vasodilatasi perifer di kulit dengan bertambahnya
pengeluaran kalor disertai keluarnya keringat.
Berdasarkan rumus kimianya analgesik perifer di golongkan
terdri dari golongan salisilat, golongan para-aminofenol, golongan pirazolon, dan
golongan antranilat. Contohnya Parasetamol, Asetosal, Antalgin.
B.
Analgetik NSAIDs (Non Steroid Anti
Inflammatory Drugs)
Anti
radang sama kuat dengan analgesik di gunakan sebagai anti nyeri atau rematik
contohnya asam mefenamat, ibuprofen.
a) Ibupropen
Ibupropen
merupakan devirat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini
bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya
sama dengan aspirin,
Ibu hamil dan
menyusui tidak di anjurkan meminim obat ini.
b) Paracetamol/acetaminophen
Merupakan
devirat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik
dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik,
parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan
nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis
lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasikan dengan
cofein yang berfungsi meningkatkan efektinitasnya tanpa perlu meningkatkan
dosisnya.
c) Asam Mefenamat
Asam mefenamat
digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein
plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus diperhatikan. Efek
samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia dan gejala
iritasi lain terhadap mukosa lambung.
2) Analgetik
narkotik (analgetik central)
Analgetik narkotik bekerja di SSP, memiliki daya penghalang
nyeri yang hebat sekali yang bersifat depresan umum (mengurangi kesadaran) dan
efek sampingnya dapat menimbulkan rasa nyaman (euforia). Obat ini khusus di
gunakan untuk penghalau rasa nyeri hebat, seperti pada fractura dan kanker. Contoh obatnya
: Morfin, Codein, Heroin, Metadon, Nalorfin.
Yang termasuk analgetik narkotik antara
lain :
a. Agonis Opiat, yang dapat dibagi dalam :
Alkaloida candu
Zat-zat sintetis
Cara kerja
obat-obat ini sama dengan morfin, hanya berlainan mengenai potensi dan lama
kerjanya, efek samping, dan risiko akan kebiasaan dengan ketergantungan.
b. Antagonis Opiat
Bila digunakan sebagai analgetika, obat ini dapat
menduduki salah satu reseptor.
c. Kombinasi,
zat-zat ini
juga mengikat pada reseptor opioid, tetapi tidak mengaktivasi kerjanya dengan
sempurna.
a)
Metadon.
- Mekanisme
kerja: kerja mirip morfin lengkap, sedatif lebih lemah.
- Indikasi:
Detoksifikas ketergantungan morfin, Nyeri hebat pada pasien yang di rumah
sakit.
- Efek tak
diinginkan:
* Depresi
pernapasan
* Konstipasi
* Gangguan SSP
* Hipotensi
ortostatik
* Mual dam
muntah pada dosis awal
b)
Fentanil.
- Mekanisme kerja:
Lebih poten dari pada morfin.
Depresi pernapasan lebih kecil
kemungkinannya
- Indikasi:
Medikasi praoperasi yang digunakan dalan anastesi.
- Efek tak
diinginkan: Depresi pernapasan lebih kecil kemungkinannya. Rigiditas otot,
bradikardi ringan.
- Kodein
- Mekanisme
kerja: sebuah prodrug 10% dosis diubah menjadi morfin. Kerjanya disebabkan oleh
morfin. Juga merupakan antitusif (menekan batuk)
- Indikasi: Penghilang rasa nyeri minor
- Efek tak
diinginkan: Serupa dengan morfin, tetapi kurang hebat pada dosis yang
menghilangkan nyeri sedang. Pada dosis tinggi, toksisitas seberat morfin.
@Mekanisme kerja
·
Analgetik
Opioid
Mekanisme
kerja utamanya ialah dalam menghambat enzim sikloogsigenase dalam pembentukan
prostaglandin yang dikaitkan dengan kerja analgetiknya dan efek sampingnya.
Kebanyakan analgetik OAINS diduga bekerja diperifer . Efek analgetiknya
telah kelihatan dalam waktu satu jam setelah pemberian per-oral. Sementara efek
antiinflamasi OAINS telah tampak dalam waktu satu-dua minggu pemberian,
sedangkan efek maksimalnya timbul berpariasi dari 1-4 minggu. Setelah
pemberiannya peroral, kadar puncaknya NSAID didalam darah dicapai dalam waktu
1-3 jam setelah pemberian, penyerapannya umumnya tidak dipengaruhi oleh adanya
makanan. Volume distribusinya relatif kecil (< 0.2 L/kg) dan mempunyai ikatan
dengan protein plasma yang tinggi biasanya (>95%). Waktu paruh eliminasinya
untuk golongan derivat arylalkanot sekitar 2-5 jam, sementara waktu paruh
indometasin sangat berpariasi diantara individu yang menggunakannya, sedangkan
piroksikam mempunyai waktu paruh paling panjang (45 jam).
Ø Contoh obat Analgetik Opioid
Alfentanil, Benzonatate, Buprenorphine, Butorphanol, Codeine, Dextromethorphan Dezocine, Difenoxin, Dihydrocodeine, Diphenoxylate, Fentanyl, Heroin Hydrocodone, Hydromorphone, LAAM, Levopropoxyphene, Levorphanol Loperamide, Meperidine, Methadone, Morphine, Nalbuphine, Nalmefene, Naloxone, Naltrexone, Noscapine Oxycodone, Oxymorphone, Pentazocine, Propoxyphene, Sufentanil.
Alfentanil, Benzonatate, Buprenorphine, Butorphanol, Codeine, Dextromethorphan Dezocine, Difenoxin, Dihydrocodeine, Diphenoxylate, Fentanyl, Heroin Hydrocodone, Hydromorphone, LAAM, Levopropoxyphene, Levorphanol Loperamide, Meperidine, Methadone, Morphine, Nalbuphine, Nalmefene, Naloxone, Naltrexone, Noscapine Oxycodone, Oxymorphone, Pentazocine, Propoxyphene, Sufentanil.
Ø Obat Analgetik Non-narkotik
Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga
sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer.
Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak
bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik
Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau
meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau
bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik /
Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada
pengguna (berbeda halnya dengan penggunaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik).
Ø Efek samping obat-pbat analgetik perifer : kerusakan lambung, kerusakan darah,
kerusakan hati dan ginjal, kerusakan kulit.
·
Obat Analgesik Non-Nakotik
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors. Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar.
Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri . Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitors. Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal serta reaksi alergi di kulit. Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam jangka waktu lama dan dosis besar.
Ø Contoh obat Analgetik Non-Narkotik
Acetaminophen, Aspirin, Celecoxib, Diclofenac, Etodolac, Fenoprofen, Flurbiprofen Ibuprofen, Indomethacin, Ketoprofen, Ketorolac, Meclofenamate, Mefanamic acid Nabumetone, Naproxen, Oxaprozin, Oxyphenbutazone, Phenylbutazone, Piroxicam Rofecoxib, Sulindac, Tolmetin.
Acetaminophen, Aspirin, Celecoxib, Diclofenac, Etodolac, Fenoprofen, Flurbiprofen Ibuprofen, Indomethacin, Ketoprofen, Ketorolac, Meclofenamate, Mefanamic acid Nabumetone, Naproxen, Oxaprozin, Oxyphenbutazone, Phenylbutazone, Piroxicam Rofecoxib, Sulindac, Tolmetin.
@Efek samping obat analgetik
1.
Gangguan Saluran Cerna
Selain menimbulkan demam dan nyeri, ternyata
prostaglandin berperan melindungi saluran cerna. Senyawa ini dapat menghambat
pengeluaran asam lambung dan mengeluarkan cairan (mukus) sehingga mengakibatkan
dinding saluran cerna rentan terluka, karena sifat asam lambung yang bisa
merusak.
2. Gangguan HatI (hepar)
Obat yang dapat menimbulkan gangguan hepar adalah parasetamol. Untuk penderita gangguan hati disarankan mengganti dengan obat lain
Obat yang dapat menimbulkan gangguan hepar adalah parasetamol. Untuk penderita gangguan hati disarankan mengganti dengan obat lain
3. Gangguan Ginjal
Hambatan pembentukan prostaglandin juga bisa berdampak
pada ginjal. Karena prostaglandin berperan homestasis di ginjal. Jika
pembentukan terganggu, terjadi gangguan homeostasis.
4. Reaksi Alergi
Penggunaan obat aspirin
dapat menimbulkan raksi alergi. Reaksi dapat berupa rinitis vasomotor, asma
bronkial hingga mengakibatkan syok.
@Karakteristik:\
1.Hanya efektif untuk
menyembuhkan sakit
2.Tidak
ada narkotika dan tidak menimbulkan rasa senang dan gembira
3 Tidak
mempengaruhi pernapasan
4 Gunanya
untuk nyeri sedang, contohnya: sakit gigi
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1979, Farmakope
Indonesia edisi 3, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
Anief, Moh, 1995, Perjalanan Dan Nasib Obat Dalam
Badan, UGM Press: Yogyakarta.
Anonim, 1999, Majalah Farmasi Indonesia Vol 10 No 04,
Mandiri Jaya Offset: Yogyakarata.
Ganiswara, Sulistia G (Ed), 2008, Farmakologi
dan Terapi, Edisi Revisi V, UI: Jakarta.
Gibson, G.Gordon Dan Paul Skett, 1991, Pengantar
Metabolisme Obat, UI Presss: Jakarta.
Katzung, Bertram G., Farmakologi Dasar dan Klinik,
Salemba Medika: Jakarta.
Tjay Hoan Tan, 2007 .“Obat-obat
penting”. PT Alex media: Jakarta.
PERTANYAAN :
PERTANYAAN :
11.
Morfin adalah golongan obat analgetik narkotik,
dan digunakan jika mengalami nyeri yang hebat. Jika nyeri yang di alamai oleh
seorang pasien yang telah melakukan operasi dapat diberikan mofin atau tidak, ?
Jelaskan!
12.
Jelaskan efek samping kerja dari obat analgetik
bagaimana terjadinya efek samping tersebut
13.
jelaskan kapankah seorang pasien mengkonsumsi
golongan narkotik maupun non narkotik?
14.
apakah ada obat analgetik kombinasi? Jika ada,
untuk pasien penyakit apa ?
15.
jika seseorang yang menderita tonsilitis (radang
amandel) kerap kali merasakan nyeri/sakit dibagian tenggorokannya. nah, apakah
obat analgetik ini bisa tidak digunakan pada penyakit tonsilitis ? dan apa obat
yang tepatnya ?
16.
reseptor apa yang bekerja pada mekanisme
metadon?
17.
Pada kasus patah tulang yang telah terjadi
beberapa tahun lalu, nyeri sering kali masih timbul hingga saat ini. Bagaimana
analisis Anda mengenai hal ini? Dan apa obat analgetik yang paling cocok ?
8. Bagaimana kondisi pasien yang dapat diberikan
analgetik narkotik dan non narkotik?
29.
Apakah aman obat ini di konsumsi ketika sedang
mengendarain motor ?
310.
Bagaimana ya kira-kira memilih jenis analgetik
yg tepat untuk masing2 individu, apa saja kriteria pemilihan analgetik untuk
tiap-tiap indvidu?
411.
kalo di film2 perang, morfin biasanya digunakan
dgn menempelkannya pada luka. Apakah morfin bisa masuk lewat luka atau
bagaimana ya? Sy kurang mengerti
512.
Untuk analgetik narkotik boleh nggak di berikan
pada ibu hamil? Apakah bisa berefek terhadap janin?
613.
Bagaimana proses farmakokinetik obat analgetik
narkotik & perifer? Adakah perbedaan nya?
714.
Apakah obat ini bisa dikonsumsi dgn vitamin c
jelaskan mekanismenya ??
815.
biasanya untuk penyakit apa digunakan obat
analgetik non narkotika?
916.
Bagaimakah mekanisme kerja dari obat penghilang
nyerinya?
117.
Bagaimana mekanisme kerja dari analgetik
antiinflamasi?
>> mohon bantuannya jikalau ada kesalahan dalam penulisan atau pembagian dll...dan like jika menyukai terimakasih :)
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan no 4
Kombinasi NSAID dengan parasetamol lebih efektif dibanding parasetamol saja (pada 85% studi) dan juga lebih efektif dibanding dengan NSAID saja (pada 64% studi). Intensitas rasa nyeri dan suplementasi analgesik pada kelompok yang menerima kombinasi NSAID dengan parasetamol lebih sedikit 35.0% ± 10.9% dibanding parasetamol saja, dan juga lebih sedikit 38.8% ± 13.1% dibanding NSAID saja. Tidak terdapat bukti mengenai kenaikan insidens efek samping obat dengan kombinasi NSAID dengan parasetamol dibanding pemberian NSAID atau parasetamol sebagai agen tunggal. Secara umum efek samping bersifat ringan dan tidak banyak terjadi pada semua studi. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
Terlepas dari beberapa kelemahannya, dalam penanganan nyeri akut pasca pembedahan, kombinasi antara NSAID dengan parasetamol memberikan efek analgesik yang lebih baik dibanding pemberian NSAID atau parasetamol sebagai agen tunggal.
hai nola, menurut saya jawaban no 4 yaitu analgetik tidak baik digunakan pada saat berkendarain motor. karena apa efek samping dari analgetik salah satu nya mengantuk atau fly. sehingga apabila digunakan pada saat berkendara akan menyebabkan kecelakaan di lalu lintas
BalasHapushy nomal
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan nomor 9
jika berbicara tentang penggunaan obat analgetik ini terbagi menjadi beberapa cara penggunaan yaitu melalui oral (mulut) ataupun injeksi (suntikan) jika ditinjau dari jenis nyeri yang dialami pasien, jika nyeri tersebut tergolong pada nyeri ringan maka akan diberikan obat analgetik jenis non narkotik (perifer) sehingga jika mengendarai kendaraan bermotor tidak akan mempengaruhi kerja obat dan tidak menimbulkan efek yang buruk bagi tubuh. karena obat yang tidak boleh digunakan saat sedang mengendarai kendaraan bermotor yaitu jenis obat yang mengandung zat adiktif dan psikotropika seperti CTM hal ini termasuk pada golongan obat analgetik narkotika karena jika dilihat dari sisi penggunaan nya saja sudah jelas obat ini dapat mempengaruhi pasien saat berkendara karena obar analgetik jenis ini hanya digunakan untuk pasien yang menderita nyeri hebat saja.jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat analgesik jenis narkotika dapat berpengaruh saat berkendara tapi kembali lagi pada jenis bahan yang terkandung dalam obat analgetik yang dikonsumsi.
saya mau mencoba jawab pertanyaan no 8, menurut pendapat saya, jika dilihat dari sisi pengertian obat analgetik jenis narkotik bekerja di SSP, yang memiliki daya penghalang nyeri yang hebat sekali yang bersifat depresan umum (mengurangi kesadaran) dan efek sampingnya dapat menimbulkan rasa nyaman (euforia). Obat ini khusus di gunakan untuk penghalau rasa nyeri hebat, seperti pada fractura dan kanker. Contoh obatnya : Morfin, Codein,dll sedangkan Analgetika perifer (non-narkotik), tidak bekerja secara sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik). jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan jenis analgetik narkotik digunakan pada pasien yang kondisinya parah seperti pada pasien penderita kanker atau kecelakaan yang parah karena obat ini dapat meringankan nyeri yang sangat hebat.sedangkan penggunaan obat analgetik jenis non narkotika digunakan pada pasien yang mengalami nyeri ringan seperti sakit gigi,nyeri haid,dan nyeri ringan lainnya
BalasHapusuntuk memilih jenis analgetik yg tepat dapat dipertimbangkan berdasarkan
BalasHapusPrinsip penatalaksanaan nyeri yaitu
Pengobatan nyeri harus dimulai dengan analgesik yang paling ringan sampai ke yang paling kuat
Tahapannya:
Tahap I : analgesik non-opiat : AINS
Tahap II : analgesik AINS + ajuvan (antidepresan)
Tahap III : analgesik opiat lemah + AINS + ajuvan
Tahap IV : analgesik opiat kuat + AINS + ajuvan
Contoh ajuvan : antidepresan, antikonvulsan, agonis α2, dll.
Menurut saya jawaban no 1 memang morfin diberikan hanya untuk mengobati nyeri namun disini kita lihat lagi apakah operasi yang dilakukan dikategorikan operasi besar atau tidak jika hanya operasi kecil seperti dimata itu hanya di beri analgesik non narkotik namun jika operasi pasca bedah seperti operasi secar, jantung dan sebagainya baru lah diberikan analgesik golongan narkotik
BalasHapusmenurut saya jika dalam mengendarai motor maupun kendaraan lainnya tentu tergantung obat analgetik yang digunakan dan dosis yang diberikan, jika analgetik tersebut memiliki efek samping mengantuk jelas tidak di sarankan mengendarai motor ataupun kendaraan lainnya. contohnya analgetik non narkotik asam mefenamat yang dapat menyebabkan kantuk.
BalasHapusanalgetik non narkotik biasanya hanya digunakan untuk mengobati nyeri ringan sampai nyeri sedang, misalnya saat demam, flu, menstruasi pada wanita juga dapat diatasi dengan analgetik golongan ini
BalasHapus8. untuk kondisi pasien dalam pemberian analgetik ini biasanya dalam keadaan sadr karena pemberian analgetik ini tujuannya meredakan nyeri yang di timbulkan oleh suatu sebab, baik analgetik narkotik maupun non narkotik ketika diberikan harus dapat memberikan efek farmakologi yang sesuai dengan tujuan terapinya.
BalasHapusObat Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri hebat, seperti pada kasus patah tulang dan penyakit kanker kronis. sedangkan pada anlgetik non narkotik dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang seperti demam dan nyeri haid
BalasHapusUntuk penggunaan morfin pada luka, biasanya digunakan untuk penghilabg nyeri secara lokal di sekitar luka, absorpsi morfin pun dapat terjadi dari kulittetapi mungkin tidak sebaik digunkan dalam bentuk injeksi
BalasHapusKalo untuk analgetik non narkotik sebenarnya tidak terlalu berbahaya, tapi tetap saja sebaiknya jangan berkendara untuk mengantisipasi kecelakaan karena mengantuk
BalasHapussaya akan membantu menjawab pertanyaan no 3
BalasHapusAnalgetik ini digunakan untuk menghilangkan nyeri hebat, misalnya pada serangan jantung akut atau pada penyakit kronis seperti kanker stadium lanjut. Obat ini mungkin dapat menimbulkan ketergantungan namun apabila diberikan sesuai anjuran dokter, ketergantungan bisa dihindarkan.
Analgetik non narkotik dapat menghilangkan nyeri ringan ataupun sedang. Penggunaan obat ini mampu meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem saraf pusat dan tidak menurunkan tingkat kesadaran. Obat analgetik non narkotik ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna apabila digunakan dengan bijaksana. Yang termasuk obat golongan ini misalnya paracetamol, asam mefenamat, natrium diclofenak dan antalgin.
no 2 asam mefenamat adalah salahsatu obat analgetik non narkotik. efek samping obat tersebut adalah menimbulkan peptic ulcer adapun mekanisme kerjanya dengan bekerj secara non selektif sehingga menghambat cox 1 dan cox2 secara bersamaan, penghambatan cox1 dapat mengurangi nyeri sedangkan penghambatan cox 2 bisa menyebabkan peptic ulcer karena tidak terbentuk prostaglandin.
BalasHapus